Peristiwa Editor : Danar Widiyanto Rabu, 03 April 2019 / 21:20 WIB

Penerbangan Haji Indonesia Libatkan 27 Pesawat

JAKARTA, KRJOGJA.com – Garuda Indonesia (GI) dan Saudi Arabian Airlines (SAA) masih dipercaya Kemenag untuk mengangkut jamaah haji. Total penerbangan haji tahun ini mencapai 507 kloter.

Berdasar hasil evaluasi, kualitas ketepatan waktu (on-time performance/OTP) penerbangan haji masih menjadi salah satu pelayanan yang perlu ditingkatkan. Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah menegaskan, perusahaannya bertekad meningkatkan kualitas OTP.

”Kami sampaikan bahwa meningkatkan on-time performance di atas 95 persen merupakan tekad bulat,” katanya setelah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Nizar di Jakarta kemarin (2/4/2019). Sebagai catatan, tahun lalu OTP Garuda Indonesia mencapai 94,75 persen.

Pikri menuturkan, ada beberapa program yang disiapkan untuk meningkatkan OTP. Antara lain, memberikan kemudahan check in, meningkatkan kecepatan informasi dan pelayanan, memastikan kondisi pesawat yang digunakan, serta pelayanan langsung kepada jamaah selama penerbangan.

Dia juga menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada pemerintah karena sudah menunjuk GI sebagai maskapai penerbangan haji tahun ini. Pikri menegaskan akan mendukung kelancaran ibadah haji. Dia menyatakan, layanan penerbangan haji bukan semata urusan bisnis. ”Tapi, melancarkan ibadah itu mulai dari hati yang bersih dan jernih,” tegasnya.

Garuda Indonesia bakal menyediakan 14 pesawat. Sesuai dengan pengaturan Kemenag, maskapai penerbangan pelat merah itu melayani jamaah dari sembilan embarkasi. Sementara itu, SAA bakal menggunakan 13 pesawat. Maskapai penerbangan tersebut akan melayani jamaah dari empat embarkasi.

Dirjen PHU Kemenag Nizar menyatakan, penunjukan GI dan SAA sudah melalui seleksi penyedia penyelenggaraan angkutan udara haji 2019. ”Ini wujud kepercayaan pemerintah. Karena memang dua (maskapai penerbangan, Red) ini yang sangat representatif dalam tugas nasional,” jelasnya.

Dia menuturkan, ke depan akan terus dikaji pembukaan bandara-bandara baru untuk penerbangan haji. Dia menyinggung pemanfaatan Bandara Kertajati. Menurut Nizar, Bandara Kertajati belum bisa digunakan sebagai bandara penerbangan haji karena belum memenuhi beberapa aspek. Salah satunya infrastruktur penunjangnya.

Selain itu, kata Nizar, Bandara Raden Intan di Lampung mengajukan permohonan untuk menjadi bandara penerbangan haji. ”Asrama haji Lampung harus ke Jakarta, lalu terbang ke Saudi,” tuturnya.

Dia mendukung target peningkatan kualitas OTP dalam misi penerbangan haji tahun ini. Salah satu kendala untuk meningkatkan OTP adalah minggu-minggu pertama pemulangan jamaah haji ke tanah air.

Dalam pertemuan itu, dibahas pula sejumlah inovasi pelayanan. Antara lain, merekrut awak kabin yang mengerti bahasa daerah jamaah. Dengan begitu, pelayanan akan lebih mudah. Kemenag mengakui, banyak jamaah haji yang tidak bisa berbahasa Indonesia.(*)