Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Rabu, 03 April 2019 / 10:09 WIB

Mendikbud : UN Alat Diagnosa Perbaikan Mutu Pendidikan

JAKARTA, KRJOGJA.com - Ujian Nasional (UN) merupakan alat diagnosa untuk perbaikan mutu pendidikan.
Kepala Balitbang Kemdikbud Totok Suprayitno di Jakarta menjelaskan
UN diseleng­garakan di Sekolah Menen­gah Atas (SMA) pada tanggal 1, 2, 4, dan 8 April 2019.

Menurutnya pelaksanaan UN tahun ini diadakan dengan dua moda yaitu Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dan Ujian Nasi­onal Kertas Pensil (UNKP).  Tahun ini pula, untuk pertama kalinya, Kementerian Pendidikan dan Ke­budayaan mulai mengarahkan UN sebagai proses asesmen.

"Dari laporan-laporan semua provinsi, UN untuk siswa-siswa SMK, baik yang menggunakan moda komputer (UNBK) maupun moda kertas-pensil (UNKP), alham­dulillah telah terlaksana dengan lancar," katanya.

Totok mematikan gangguan atau hambatan memang ada, seperti lis­trik padam sementara di beberapa lokasi, sekolah tergenang banjir, proktor sekolah terlambat mener­ima token, dan lain-lain. Tetapi semuanya dapat dicari solusinya.

 


"Setiap hari, tim UN melakukan evaluasi untuk mitigasi risiko dari setiap kemungkinan hambatan. Pekerjaan ini melibatkan banyak pihak, dan kami di Ke­mdikbud sangat berterima kasih atas dukungan dan bantuan mereka. 
Kawan-kawan di Kementerian Riset, Teknologi, dan Pen­didikan Tinggi, POLRI, PLN, Kementerian Komuni­kasi dan Informasi, dan Telkom sangat responsif ikut menyelesaikan setiap kendala di lapangan."

Menjawab pertanyaan wartawan  soal masalah teknis di ten­gah ujian, apakah pengerjaan mulai dari awal,Totok menjelaskan prinsipnya, setiap kendala dan hambatan apa pun tidak boleh merugikan siswa.  Jadi, kalau listrik padam saat siswa ujian maka jawaban otomatis tersimpan dan timer akan off. Saat listrik hidup lagi, siswa yang bersangkutan dapat melanjutkan ujian­nya tanpa kehilangan waktu ujian. Sedangkan, untuk soal yang mem­butuhkan daya nalar tinggi atau higher order thinking skills (HOTS, tidak mesti berarti sulit. Bagi siswa yg terbiasa berpikir kritis, soal tersebut bisa terasa mudah. Tidak ada penilaian khusus untuk HOTS ini. Masing-masing butir soal diberi nilai sama.

"Angket UN 2019 ini dimaksud­kan sebagai ikhtiar untuk memotret aspek non-kognitif siswa. Pertama, untuk mengetahui latar belakang­nya, yang digali dari kondisi sosial ekonomi orang tuanya, seperti pekerjaan, pendidikan, kepemilikan barang. Juga, angket ini menggali persepsi siswa akan pengenalan atas dirinya, bakat, cita-citanya, dan sebagainya. (Ati)