Pendidikan Editor : Danar Widiyanto Senin, 01 April 2019 / 15:20 WIB

Bisa Hasilkan Cat Anti Radar, PT Diminta Manfaatkan Reaktor Nuklir 'Kartini'

SLEMAN, KRJOGJA.com - Badan Tenaga Nuklir (BATAN) Yogyakarta mengungkap data masih sedikitnya perguruan tinggi khususnya yang memiliki Jurusan/Departemen Fisika di wilayah DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang melakukan riset di Reaktor Nuklir Kartini Yogyakarta. Padahal, banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk menghasilkan penelitian bermanfaat untuk masyarakat. 

Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) yang juga Plt Kepala Pusat Sains dan Teknologi Akseralator (PSTA) Edy Giri Rachman Putera mengatakan hingga saat ini baru tiga perguruan tinggi yang memanfaatkan reaktor nuklir Kartini untuk penelitian. Menurut dia, hal tersebut cukup memprihatinkan lantaran di wilayah DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur sangat banyak perguruan tinggi yang memiliki konsentrasi jurusan Fisika. 

“Masak belajar Fisika tapi belum pernah lihat reaktor nuklir padahal banyak penelitian yang bisa dihasilkan dengan reaktor nuklir salah satunya Kartini ini. Karena itu kami berharap semakin banyak pengelola perguruan tinggi yang mendorong penelitian, bersinergi dengan BATAN,” ungkapnya pada wartawan usai acara Temu Pelanggan di STTN Senin (1/4/2019). 

Edy menyebut, BATAN melalui PSTA selama ini berhasil melakukan berbagai penelitian menarik diantaranya bahan pewarna batik, obat pain killer penderita kanker hingga yang teranyar cat anti radar. Mahalnya membuat reaktor nuklir pun diharapkan bisa diatasi dengan adanya sinergi kerjasama antara BATAN dan peguruan tinggi. 

“Sekarang ini baru UGM, UNS dan UNY yang memanfaatkan melakukan penelitian di sini (Reaktor Kartini). Setelah ini harapan kami banyak lagi yang datang dan bersinergi untuk memanfaatkan salah satu reaktor di Indonesia yang kita punya selain di Serpong dan Bandung,” imbuhnya. 

Sementara Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir (SATN) BATAN, Efrizon Umar menambahkan selama ini pihaknya memang kesulitan melakukan hilirisasi produk hasil penelitian salah satunya seperti cat anti radar. Ia berharap kedepan muncul pihak swasta atau BUMN yang juga siap bekerjasama melakukan hilirisasi produk hasil penelitian. 

“Untuk cat anti radar misalnya, kami tak bisa memenuhi kebutuhan karena maksimal hanya produksi 5 hingga 10 kilogram padahal kebutuhannya 200 kilogram lebih, ini yang kemudian kami harapkan pihak lain masuk untuk bekerjasama. Untuk obat-obatan kami sudah bekerjasama dengan Kimia Farma, nah harapannya kerjasama-kerjasama seperti ini juga bisa dilakukan pada pihak-pihak lainnya,” terangnya. (Fxh)