DIY Editor : Danar Widiyanto Senin, 01 April 2019 / 08:10 WIB

Majukan UMKM, Berburu Batik Wijirejo di Stand Bazaar

INGIN berburu atau memiliki kain batik asal sentra batik di kawasan Wijirejo Pandak Bantul? Kita tak datang langsung ke Wijirejo, misalnya bisa pesan secara online ataupun dengan mendatangi pameran. Apalagi sejumlah perajin batik asal Wijirejo sering ikut pameran maupun membuka stan bazaar menyemarakkan suatu kegiatan.

“Setiap mengikuti pameran, bazaar dan sejenisnya kami menyediakan aneka jenis motif dan harga kain batik. Kain dengan harga sedang lebih banyak diminati konsumen. Begitu juga pesanan kain batik yang digunakan untuk seragam, biasa yang harga di bawah Rp 200.000 perpotong kain, misalnya antara Rp 120.000 sampai Rp 150.000 perpotong kain,” ungkap salah satu perajin batik asal Wijirejo, Yulianto, Minggu (31/3/2019).

Ditemui di stan bazaar UMKM dalam rangka memeriahkan senam massal dan jalan sehat di kompleks Museum Soeharto Sedayu Bantul, suami dari Siti Khomariyah ini menjelaskan, harga kain batik dipengaruhi beberapa hal. Tingkat kerumitan motif ataupun kepadatan gambar ikut menentukan harga. Artinya juga ketika dalam satu kain batik, gambarnya tak padat atau motifnya tak banyak, harga akan lebih murah.

“Jenis kain atau morinya sebagai media batik juga mempengaruhi harga. Di tempat saya lebih banyak menggunakan kain kualitas sedang. Kualitas bagus kalau ada pesanan dari konsumen,” beber Yuli.

Masih menurutnya, harga jenis batik tulis masih lebih mahal dibanding batik cap maupun kombinasi tulis dan cap. Khusus batik tulis yang dibuat di tempatnya terutama harga Rp 150.000 sampai Rp 300.000 perpotong (dua meter), paling banyak dibeli. Selain menjual wujud kain batik, ada pula yang sudah baju/pakaian. Jika sudah wujud baju, untuk laki-laki harga biasa lebih mahal Rp 50.000 dibanding masih wujud kain, karena untuk ongkos jahit. Pakaian/baju wanita ongkos jahitnya biasa antara Rp 70.000 sampai Rp 10.000 perpotong.

“Perputaran duitnya lebih cepat kalau menjual masih wujud kain, belum diproses menjadi baju,” tambahnya.

Dalam menjalankan usahanya, sebut Yuli, ia dibantu lima tenaga tetap yang berada di rumahnya terutama bagian mewarnai dan cap. Sedangkan pembatik ibu-ibu ada delapan orang, banyak dikerjakan di rumah masing-masing. Bahan-bahan mengambil di tempatnya dan kalau sudah jadi (belum diwarnai) disetor. Ia dan istrinya mengawali usaha batik, awalnya memasarkan saja, misalnya belanja batik sampai Solo maupun sejumlah sentra batik di DIY. (Yan)