Gaya Hidup Editor : Danar Widiyanto Sabtu, 30 Maret 2019 / 07:30 WIB

Setelah Eropa, Facebook Kini Hapus Ratusan Akun Palsu di Filipina

Facebook tengah gencar menghapus akun-akun palsu di platform-nya dan Instagram yang terhubung dengan tingkah laku tidak autentik.

Total, ada sekitar 200 page, grup, dan akun di Facebook dan Instagram yang dihapus terkait masalah tersebut di Filipina.

Dalam unggahan blog yang dipublikasikan Facebook, Head of Cyber Security Policy Facebook Nathaniel Gleicher mengatakan, keberadaan akun, grup, dan page tersebut telah membuat orang salah paham tentang jati diri dan apa yang dilakukan mereka.

"Individu yang berada di balik aktivitas ini menggunakan kombinasi antara akun asli dan palsu untuk menyebarkan konten di Page maupun Grup," kata Gleicher.

Gleicher lebih lanjut mengatakan, "Mereka sering mengunggah berita lokal dan politik, termasuk topik seperti pemilihan, pandangan kandidat, dan dugaan perilaku salah dari lawan politik, serta peristiwa kontroversial yang terjadi pada pemerintahan sebelumnya."

Ia menambahkan, meskipun orang-orang di balik kegiatan ini berupaya menyembunyikan identitas mereka, penyelidikan kami menemukan bahwa kegiatan ini terkait dengan jaringan yang diselenggarakan oleh Nic Gabunada.

Nic Gabunada merupakan mantan manajer sosial media Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Total, ada 67 page, 68 akun Facebook, 40 grup, dan 25 akun Instagram yang dihapus.

Pengikut grup-grup tersebut jumlahnya mencapai 3,6 juta user. Di mana, sekitar 1,8 juta akun diperkirakan bergabung dengan salah satu grup yang dihapus ini.

Selain itu, sekitar 5.300 akun mengikuti salah satu akun Instagram yang dihapus.

"Kami mengidentifikasi akun-akun dan page ini lewat investigasi internal yang sedang berlangsung terhadap perilaku tidak otentik terkoordinasi di Filipina," katanya.

Gleicher mengatakan, Facebook selalu bekerja keras untuk mendeteksi dan menghentikan aktivitas-aktivitas seperti ini karena tidak ingin layanannya dipakai untuk memanipulasi orang lain.

"Kami menghapus page dan akun-akun ini berdasarkan tingkah lakunya, bukan konten apa yang mereka unggah. Dalam kasus ini, mereka yang berada di balik aktivitas ini terhubung satu sama lain dan menggunakan akun palsu untuk menginterpretasikan diri mereka," ujar Gleicher.(*)