Jateng Editor : Agus Sigit Kamis, 28 Maret 2019 / 16:35 WIB

Target Swasembada Bawang Putih, Hasil Panen Bulan Ini Jadi Benih

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com - Pemerintah meminta pada petani hasil panen bawang putih pada musim panen di awal tahun 2019 dijadikan benih untuk musim tanam berikutnya sebagai langkah mencapai target swasembada bawang putih konsumsi pada 2021.

"Swasembada benih bawang putih ditarget tercapai pada 2019. Kini target pada swasembada bawang konsumsi," kata Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian RI, Suwandi pada panen bawang putih di lereng Gunung Sumbing Desa Petarangan Kecamatan Kledung, Temanggung, yang dilanjutkan peresmian gudang Bawang Putih Desa Danupayan Kecamatan Bulu, Kamis (28/3).

Dia mengatakan untuk mencapai swasembada bawang putih konsumsi di Indonesia dibutuhkan lahan 70 ribu hingga 80 ribu dengan produksi 7 hingga 10 ton per hektare. Saat ini lahan baru pada kisaran 10 ribu hingga 11 ribu hektare yang tersebar di 80 kabupaten. Maka itu bila bawang putih yang kini dipanen dan dijadikan benih, dalam hitungan pada 2021 bisa swasembada bawang putih konsumsi. Sebab, satu hektare benih dapat untuk memenuhi lahan tiga hektare. 

Dia mengatakan karena bawang putih masih dijadikan benih, maka kini pemerintah masih impor bawang putih. Keterpenuhi hasil bawang putih lokal baru sekitar 5 persen dari kebutuhan 550 ribu hingga 600 ribu ton. " Kedepan akan 100 persen terpenuhi kebutuhan dalam negeri, termasuk benih dan konsumsi. Dan tidak ada lagi impor," katanya. 

Dia mengatakan penjualan benih bawang putih juga lebih menguntungkan, sebab harga Rp 40 ribu - Rp 60 ribu per kilogram, sedangkan konsumsi Rp 17,9 ribu per kilogram. " Temanggung sendiri diharapkan tetap sebagai kabupaten penopang produksi bawang putih terbesar di Indonesia, selain Sembalun Lombok Timur," katanya.

Dirjen Hortikultura saat panen dan meninjau gudang bawang putih di Temanggung. Foto: Zaini

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Temanggung Masrik Amin mengatakan terdapat lahan 3300 hektare lahan bawang putih, dari potensi 11 ribu hektare. Seluruh potensi itu akan di pacu untuk menjadi lahan bawang putih, untuk menyokong swasembada  bawang putih konsumsi. " Saat ini telah mampu penuhi benih, atau telah mencapai swasembada benih," katanya.

Dikatakan budidaya bawang putih telah digalakkan dalam beberapa tahun terakhir, petani pun bersemangat dengan target kedepan bisa menjadi raja di rumah sendiri seperti di era 1980an. Komoditas yang dikembangkan varietas lurik kuning, hijau dan lokal. " Kualitas bawang putih Temanggung sebagai yang terbaik. Bahkan tiga kali lebih baik dibanding kualitas ekspor," katanya.

Dia menyampaikan bantuan digelontor pemerintah pada petani, mulai dari benih, pupuk maupun teknologi pertanian serta penguatan kelembagaan. Pemasaran serta promosi dibantu. 

Seorang petani Wahyuni (41) warga Desa Petarangan mengatakan biaya produksi olah bawang putih Rp 120 juta perlahan dengan hasil 7 hingga 10 ton. Sehingga petani mendapat penghasilan sekitar Rp 179 juta untuk bawang putih konsumsi sedangkan penjualan benih bawang putih sekitar Rp 500 juta per hektare. 

" Luas lahan di Petarangan sekitar 200 hektare, namun yang kini dipanen baru 4 hektare, kedepan akan ditanami bawang putih dengan cara tumpang sari," katanya.

Petani, terangnya sudah mulai terbiasa kembali dengan budidaya bawang putih dan merasakan hasilnya yang menguntungkan. " Semoga tidak ada lagi impor, nanti kebutuhan dipenuhi petani sendiri," katanya.  (Osy)