Jateng Editor : Ivan Aditya Rabu, 27 Maret 2019 / 10:34 WIB

Jalan Trasah Berfungsi ‘Multidimensi’

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com - Kodim 0706 Temanggung berhasil menyelesaikan pembangunan blok trasah jalan pada program TMMD Reguler ke-104 Tahun Anggaran 2019 di Lereng Gunung Sumbing di Desa Tlahap Kecamatan Kledung Kabupaten Temanggung. Jalan tersebut berfungsi multidimensi, antara lain jalan ekonomi, kesehatan, budaya dan sebagai obyek wisata itu sendiri.

Komandan Kodim 0706 Temanggung Letkol (Inf) David Alam mengatakan sasaran fisik TMMD berupa blok trasah jalan sepanjang 1.431 meter dan lebar 3 meter. Jalan ini aspirasi masyarakat yang membutuhkan perbaikan jalan wisata ke obyek wisata Posong yang berada di lereng Gunung  Sindoro. Selain itu pembuatan talud di 6 titik dengan panjang 150 meter hingga 40 meter, dengan ketinggian 2 meter dan lebar 0,30 meter.

"Sasaran fisik yang diselesaikan antara lain gorong-gorong sebanyak 7 unit, berupa 1 unit eksisting, 6 unit cyclops, dan pembuatan drainase 1 titik, " katanya pada penutupan TMMD, Rabu (27/03/2019).

Penutupan TMMD sendiri dipimpin Kasrem 072/Pamungkas Kolonel (Kav) Puji Setiyono dan diikuti seluruh personel yang terlibat TMMD dan warga setempat di lapangan Bumiarum Tlahap.

Dikatakan David Alam sasaran pendamping TMMD berupa rehabilitasi 4 unit rumah tidak layak huni, yang dananya dari bantuan desa dan BAZ Daerah, serta rehabilitasi masjid Darul Muttaqin. Pada TMMD terlibat diantaranya dari Kodim 0706, Polres Temanggung, linmas dan masyarakat.

"Dana TMMD mencapai Rp 1,3 miliar, yang berasal dari APBD Pemprov Jateng, APBD Kabupaten Temanggung dan Swadaya masyarakat," katanya.

Dia menyampaikan antusiasme warga sangat tinggi dalam pembuatan jalan trasah, bahkan warga dari warga Desa Balecatur Yogyakarta datang jauh-jauh untuk bergotong royong.  Mereka datang bersama Angkatan Udara Lanud Adi Sucipto dan Batalyon 403 Yogyakarta.

Kades Tlahap Irwan menyampaikan apresiasi yang tinggi pada TNI melalui program TMMD berhasil membuat jalan trasah. Keberadaan jalan tersebut sangat dibutuhkan warga di desanya. Jalan tidak hanya berfungsi ekonomis untuk mengangkut hasil pertanian dari lahan ke pasar, atau sebaliknya membawa kebutuhan untuk bercocok tanam, namun juga mempermudah akses wisatawan menuju ke obyek wisata Desa Posong.

Yang harus disadari, terangnya, jalan itu adalah bukti warisan tradisi budaya. Jalan itu merupakan sebuah obyek wisata tersendiri, sebab jalan trasah berupa tatanan batu adalah warisan nenek moyang dari warga Temanggung. Pembuatan jalan ini memerlukan teknik dengan sentuhan seni tersendiri.

Dikatakan, butuh teknik khusus agar jalan tahan beban, kuat, tidak bergelombang sehingga nyaman saat dilewati kendaraan dan aman ketika dilalui pejalan kaki. Sementara sentuhan seni membuat jalan terlihat indah, baik dilihat dari dekat maupun dari jauh.

"Berjalan telanjang kaki di atas trasah membuat badan sehat, ini salah satu rahasia kesehatan nenek moyang kami. Ini jalan ekonomi, jalan kesehatan, jalan wisata, jalan tradisi, dan menjadi obyek wisata itu sendiri," katanya, sembari mengatakan jalan trasah juga ramah lingkungan, sebab mampu menyerap air hujan dan perawatannya murah serta mudah.

Jadi, jelasnya, jalan trasah tidak hanya berfungsi ekonomi tetapi memiliki fungsi menumental tradisi budaya. Dalam proses pembuatannya, ada nilai-nilai yang ditransfer antar generasi, sebuah pewarisan teknik pembangunan selain kearifan lokal kegotongroyongan, kerukunan, kebersamaan, mencintai alam, cinta tanah air dan menghormati antar generasi.

"TNI telah mampu secara langsung maupun tidak langsung melakukannya. Itulah TNI yang berasal dari rakyat dan membuktikan menyatu dengan rakyat," katanya.

Dia mengatakan selesainya jalan trasah, akan semakin giat petani dalam olah lahan, karena mempermudah mobilitas membawa peralatan dan kebutuhan bercocok seperti pupuk dan bibit ke lahan. Hasil panen pertanian juga cepat dibawa ke rumah untuk diolah atau pada konsumen, sehingga memperkecil resiko kerusakkan dan kerugian.

Mantan Kepala Bappeda Temanggung Bambang Dewantoro mengatakan jalan trasah berdasar penelitiannya merupakan teknologi asli dalam pembangunan jalan di daerah tersebut. Buktinya adalah keberadaan jalan trasah di komplek Situs Liyangan di lereng gunung Sindoro Dusun Liyangan Desa Purbosari Kecamatan Ngadirejo. " Situs tersebut peninggalan mataram kuno dan jalan trasah disakralkan, dan awet hingga sekarang," katanya.

Teknologi jalan trasah menyebar ke di wilayah Temanggung dan berkembang, katanya. Jika di Liyangan lebih didominasi batu sungai dan berbentuk bulat, dan kini batu kali yang dipecah untuk ditata sedemikian rupa dengan rapi dan aman. "Pada penataan ini ada batu pembuka dan ada juga batu pengunci, ini sebuah teknologi yang rumit perlu cermat dan teliti," katanya.

Pembuatan jalan trasah, untuk jalan wisata dan ekonomi di Posong tentu harus dicontoh untuk tempat lain, dan bisa jadi obyek studi pembuatan jalan tradisional. “Saya setuju jalan trasah ini menjadi obyek wisata tersendiri," katanya.

Wakil Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat Brigjen TNI Joko Warsito dalam peninjauan Kotis TMMD di Tlahap mengatakan jalan trasah yang dibuat ternyata multidimensi, yakni punya nilai plus dari sisi ekonomi memacu pertumbuhan ekonomi, sebab hasil pertanian lebih mudah diangkut dengan kendaraan termasuk proses pemupukan dan merupakan akses ke tempat wisata Posong.

Pembuatan jalan trasah yang merupakan sebagai warisan luhur nenek moyang dalam membuat jalan, katanya, adalah  usulan rakyat sebab mereka yang paling tahu akan kebutuhan dan manfaatnya, sementara TNI membantu mewujudkannya. "Program TMMD ini juga membantu pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, baik program fisik dan non fisik, supaya daerah aman dan rakyat tentram," katanya, sembari mengatakan program TMMD di Temanggung sudah direncanakan dengan baik dan manfaatnya untuk rakyat.

Bupati Temanggung Al Khadziq mengatakan apresiasi yang tinggi dengan program TMMD dan hasil-hasilnya. TMMD sangat membantu pemerintah dalam pembangunan dan hasilnya dirasakan manfaatnya secara nyata untuk masyarakat. "TMMD di Tlahap sangat bagus, pemerintah sangat mengapresiasi, terutama pembuatan jalan Trasah," katanya.

Seorang warga, Wuwuh (37) mengemukakan senang dengan jalan trasah yang dibuat pada TMMD. Jalan tersebut sangat didambakan warga sejak lama karena akan memacu pertumbuhan ekonomi, dan membuktikan diwarisinya tekologi pembuatan jalan dari nenek moyang. "Kami bangga dengan jalan wisata ini, warga luar daerah bisa melihat dan menikmati jalan tradisional yang dibuat dalam TMMD," katanya.

Disampaikan ditengah ramainya beton rabat dan pengaspalan jalan, warga Tlahap justru mempertahankan jalan trasah, sebab itulah yang terbaik. Jalan trasah mampu menyerap air dikala hujan dan menyehatkan badan, juga jika rusak mudah diperbaiki, karena tidak butuh banyak biaya. (Osy)