DIY Editor : Ivan Aditya Selasa, 26 Maret 2019 / 13:59 WIB

Memahami Alquran dan Sunnah Tak Sesederhana Tafsir

YOGYA, KRJOGJA.com - Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara UIN Sunan Kalijaga menggelar bedah buku karya Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Drs KH Yudian Wahyudi BA BA MA PhD di Gedung  Prof RHA Soenarjo SH UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (21/03/2019).

Bedah buku bertajuk 'Dinamika Politik- Slogan: Kembali Kepada Alquran dan Sunnah' di Mesir, Maroko dan Indonesia ini menghadirkan tiga narasumber, Dr Phil Syaifuddin Zuhri SSos MA (penterjemah), Prof TGS Dr KH Saidurrahman MA (Rektor UIN Sumatera Utara) dan Dr Phil Sahiron MA (Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan - Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dengan moderator Dr KH Ibnu Burdah MA.

Ketua panitia Dr Ali Imron menyampaikan, buku ini merupakan hasil riset yang sangat serius, karya disertasi Prof Yudian. Sudah diterbitkan tiga kali, tahun 2007 dalam bahasa Inggris dengan judul 'Back to the Qur’an and the Sunna' as the Ideal Solution to the Decline of Islam in the Modern Age, tahun 2010 dan 2019 dalam bahasa Indonesia. Paparannya merupakan penjabaran yang membandingkan (compare and contrast) dua abad pengaruh slogan 'Kembali kepada Alquran dan Sunnah' terhadap dinamika politik dan perebutan kekuasaan di tiga negara, Mesir, Maroko dan Indonesia.

"Prof Yudian berhasil mengungkap signifikansi epistemologi dan politik konsep sunnah versus bidah, ijtihad versus taklid dan jabariah (determinisme) versus qadariah (indeterminisme). Beliau juga berhasil mengungkap bagaimana kaum Wahabi menjadikan slogan tersebut sebagai kendaraan menuju pusat kekuasaan," sebutnya.

Bahkan di Eropa dan Amerika, buku ini marak didiskusikan sebagai materi penting bahwa untuk memahami Alquran dan Sunnah tidak sesederhana yang ditafsirkan kaum Wahabi. Oleh karena itu Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara merasa penting untuk membedah karya monumental ini agar generasi muda muslim lebih terbuka dalam memahami Alquran dan Sunnah.

"Tidak terjebak pada pemahaman yang tekstual dan literal. Karena pemahaman yang seperti itu hanya akan memicu konflik antar muslim dan tidak membawa kemajuan umat muslim sendiri dan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar dan majemuk," sambungnya.

Prof Yudian Wahyudi menyampaikan, risetnya ini ingin mengingatkan kepada umat muslim di seluruh belahan dunia. Terlebih di Indonesia bahwa pemikiran ke-Islaman tidak pernah terlepas dari dinamika politik kebangsaan.

Gerakan Islam Wahabi untuk  kembali ke Quran dan Sunah yang dipelopori Ibn ‘Abd al-Wahhab yang kemudian direspon tokoh-tokoh seperti Muhammad ‘Ali Pasha, Al-Afghani, Muhammad ‘Abduh, Muhammad Rashid Rida, Hasan al-Banna, Sayyid Qutb (Mesir), Sultan ‘Abd Allah, Sultan Hasan I, Sultan ‘Abd al-Aziz, Sultan ‘Abd al-Hafiz, Al-Dukkali, Allah al-Fasi (Maroko), Garakan Paderi, Sayyid ‘Uthman, KH Ahmad Dahlan, Ahmad al-Shurkati, Ahmad Hassan, Kartosuwirjo (Indonesia) membuktikan ketika pemikiran kembali kepada Alquran dan Sunnah dipahami secara tekstual/harafiah/literal, tidak pernah bisa membawa kemajuan/kejayaan Islam dan justru selalu memicu konfik dengan penguasa negara. (Feb)