Jateng Editor : Danar Widiyanto Senin, 25 Maret 2019 / 02:10 WIB

Pendaftar Terus Naik, Antrean Haji Hingga 22 Tahun

BOYOLALI, KRJOGJA.com - Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama Jawa Tengah Muhammad Sya'idun mengatakan hingga 22 Maret 2019, jumlah pendaftat haji di Jawa Tengah telah mencapai 685.149 orang dengan antrean hingga 22 tahun atau berangkat pada 2041.

"Semakin banyak warga yang mendaftar haji. Mereka harus bersabar menunggu untuk diberangkatkan," kata Muhammad Sya'idun, Minggu (24/3/2019).

Dirinya menyampaikan hal itu pada manasik haji bersama 14 KBIH dibawah naungan Muhammadiyah di Jawa Tengah di Asrama Donohudan. Manasik itu diikuti sekitar 1600 calhaj. Acara berakhir Minggu yang digelar pula senam bersama.

Menurutnya ada beberapa aturan baru dalam pendaftaran haji, diantaranya batas minimal pendaftar 12 tahun. Sehingga kedepan tidak ada lagi anak-anak berhaji atau minimal umur 30 tahun.

Dia mengatakan calhaj harus rekam biometri sebelum diberangkatkan, hal ini untuk memangkas pemeriksaan di imigrasi di Arab Saudi. Karenanya, nanti akan ditebar perekaman biometri di sejumlah daerah di Jawa Tengah untuk pelayanan.

Dia menyampaikan keberadaan KBIH sangat membantu pemerintah dalam pelayanan pembinaan warga dalam persiapan berhaji. Terutama dalam persiapan keilmuan dan fisik. "Kami berharap KBIH meningkatkan kualitas dan pelayanan, KBIH di bawah Muhammadiyah telah menunjukkannya," katanya.

Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan KBIH Muhammadiyah - Aisyiyah Jawa Tengah Muhtar Hadi mengatakan Muhammadiyah terus meningkatkan kualitas pelayanan pada calhaj. Evaluasi tidak hanya dilakukan KBIH tetapi juga Muhammadiyah dari tingkat ranting hingga pimpinan pusat. "Evaluasi dan pengembangan terus dilakukan untuk calhaj," katanya.

Dia menyampaikan Muhammadiyah telah mengantisipasi adanya regulasi pemerintah untuk sertifikasi seluruh pembimbing haji, pada 2020. Antisipasi itu, Muhammadiyah sudah menyelenggarakan sertifikasi pembimbing sebanyak 3 angkatan. "Ini sebagai bukti kemajuan Muhammadiyah," katanya.

Harapan KBIH di bawah Muhammadiyah, katanya, calhaj bisa mandiri saat berhaji dan umroh, yakni mandiri dalam beribadah, sehingga saat terpisah dengan pembimbing dan teman-temannya bisa beribadah sendiri.

"Jangan ada pembimbing yang minta digantungi calhaj. Calhaj harus mandiri," katanya. (Osy)