Gaya Hidup Editor : Tomi sudjatmiko Minggu, 24 Maret 2019 / 14:20 WIB

CAPAI 78 PERSEN

Eksploitasi Anak, Dampak Buruk Internet

PENGGUNAAN internet yang disalahgunakan , ternyata memiliki dampak buruk terhadap eksploitasi anak. Bahkan, 78 persen korban eksploitasi seksual anak terjadi lewat aktivitas secara daring. Hal ini dikatakan, Dermawan, Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam Diskusi "Lindungi Perempuan dan Anak dari Jaringan Prostitusi online" di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak, Jakarta, pekan lalu.

Kasus eksploitasi seksual dan kekerasan anak cukup tinggi. Eksploitasi seksual dan kekerasan anak tak terlepas dari imbas aktivitas anak di dunia maya. Sebab, internet semakin mudah diakses oleh anak-anak. Dermawan menyatakan, sebanyak 206 anak atau 41 persen menjadi korban prostitusi secara daring.

"Sedangkan 184 anak atau 37 persen menjadi korban materi yang menampilkan eksploitasi atau kekerasan seksual terhadap anak. Baik anak perempuan maupun laki-laki, saat ini memiliki kerentanan yang sama mengalami kekerasan, termasuk kekerasan seksual," kata Dermawan

Revisi KUHP

Mengingat makin banyaknya anak yang menjadi korban akibat aktivitas daring, Komisioner Ombudsman Ninik Rahayu, meminta DPR untuk memasukkan pasal, yang bisa menjerat pengguna layanan prostitusi dalam draft revisi KUHP.

Mantan anggota Komnas Perempuan ini berharap dengan revisi KUHP, para penikmat jasa prostitusi juga bisa dihukum. "Selama ini kan hanya muncikari yang dijerat. Pelakunya sudah saatnya KUHP sebagai payung hukumnya ini juga ikut merevisi ke sana," kata Ninik.

Tidak hanya DPR, ia juga mendesak pemerintah proaktif agar revisi KUHP tersebut segera dibahas dan diselesaikan.

Punya Filter

Dampak positif internet pada anak, diantaranya membuat anak menjadi lebih kreatif, dan mengerti kemajuan teknologi serta bisa mengaksesnya. Internet juga sebagai hiburan bagi anak dan media bersosialisasi di zaman modern ini. Dan, tentu saja sebagai media untuk belajar yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Namun, dalam berbagai artikel di media sosial, salah satu hal yang memberi pengaruh negatif adalah konten pornografi. Bila anak belum memiliki filter yang kuat, untuk membedakan baik buruk, pantas atau tidak pantas. Bila tidak diberi pemahaman yang benar, anak bisa coba-coba untuk melakukan pelecehan seksual pada temannya. Selanjutnya, anak akan terbiasa menonton tayangan porno melalui internet.

Disisi lain, kecanduan internet juga membuat anak menjadi ketagihan untuk selalu melakukan kegiatan dengan internet. Misalnya ketagihan game online, juga ketagihan untuk selalu aktif di jejaringan sosial. Bahkan, pernah ada kasus, seorang anak tidak sadar berada di luar rumah untuk main game online, dan saat lapar hanya makan mie instan dan minuman kemasan. Sementara orangtuanya kebingungan, anaknya tidak pulang sampai keesokan harinya.

Bahkan, ada kecenderungan anak mengabaikan peringatan, misalnya konten yang tidak sesuai dengan usianya atau pengetahuannya. Akibatnya, informasi yang beredar bebas, juga dikonsumsi anak-anak.
Dampak negatif lainnya adalah, ada anak yang tidak bisa membedakan antara dunia maya dan dunia nyata. Sehingga anak menjadi kaget dan menabrak aturan.

Hal lain yang cukup memprihatinkan, adalah anak menjadikan internet sebagai acuan. Ketika ada tugas atau PR dari sekolah, anak mencari jawaban dengan melakukan browsing. Akibatnya anak tidak bersungguh-sungguh atau bekerja keras untuk mencari jawaban. Akibatnya, pola pikir anak menjadi instan. Anak akan mencari jalan pintas dan percaya pada hal-hal yang dijumpainya di internet.
Sedang yang menjadi kekhawatiran adalah anak menjadi anti sosial. 

Keasyikan dengan internet membuat interaksi secara langsung dengan lingkungan sekitar. Namun lebih akrab dengan teman di dunia maya yang belum tentu kewajarannya. Untuk itu, banyak pakar pendidikan dan pemerhati anak yang menyarankan, agar anak benar-benar diberi pemahaman tentang dampak negatif internet dan memiliki filter yang kuat. Anak perlu didampingi saat mengakses internet, bila perlu memberi batasan waktu.

Orangtua sebaiknya aktif mengajak anak untuk melakukan kegiatan fisik motorik dan berinteraksi secara langsung. Sehingga anak akan tahu, betapa banyak hal-hal yang mengasyikkan selain berselancar di dunia maya. Untuk itulah, anak harus memiliki filter yang
kuat. (Ati)