DIY Editor : Ivan Aditya Sabtu, 23 Maret 2019 / 08:37 WIB

Sultan Minta di Bantul Dibuat Embung

BANTUL, KRJOGJA.com - Beban Sungai Oya dan Sungai Opak sangat besar dengan luapan air cukup tinggi di musim penghujan, sehingga wilayah yang dilintasi sungai tersebut langganan banjir. Untuk itu, kedua sungai tersebut sudah waktunya dikendalikan dengan membuat embung di posisi yang paling tepat, untuk mengurangi beban aliran sungai ke Selatan saat musim hujan.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X minta agar segera diidentifikasi tempat-tempat yang rawan bencana longsor dengan kemiringan dan struktur tanah tertentu, maupun potensi banjir. Identifikasi ini menjadi kunci untuk memetakan area-area yang membahayakan masyarakat atau rawan bencana.

”Sejak saya jadi Gubernur DIY selama 18 tahun, tidak pernah Bantul mengajukan permintaan membangun irigasi. Yang diajukan selalu rehabilitasi talut atau hanya rehabilitasi irigasi saja, sehingga dapat dilihat dampak banjir akibat luapan Sungai Oya semakin meluas di Bantul. Satu-satunya cara kalau mau permanen, sebelum mengalir ke Selatan bisa disudet dari Utara. Jadi ada yang lari ke embung,” papar Sultan.

Sultan mengatakan, dengan dibuat embung, apabila musim hujan tiba dan air sungai meluap, ada yang diarahkan masuk ke embung sehingga aliran air ke Selatan lebih sedikit. Contohnya Pemerintah Pusat membangun Embung Tambakboyo dengan daya tampung 600.000 meter kubik untuk mengurangi debit air hujan yang masuk ke sungai agar tidak meluap, itu saja masih tetap kurang dan rusak hampir setiap tahunnya.

“Bisa dibuatkan embung di Bantul seperti di Sriten, Gunungkidul yang berkapasitas setidaknya 500.000 meter kubik. Saya persilakan pakai Sultan Ground (SG) untuk bangun embung, banyaknya embung yang dibangun tergantung tanahnya bisa 1 atau 2 hektare, dan harus bisa digunakan pula untuk pertanian,” katanya.

Dikatakan Gubernur, Pemda DIY akan mengupayakan pembangunan embung di Bantul tahun ini agar kejadian banjir seperti sekarang tidak terulang kembali. “Pemda DIY masih mempunyai anggaran cukup banyak yang bisa dimanfaatkan untuk membangun setidaknya tiga embung lagi. Satu embung bisa menghabiskan anggaran Rp 3 miliar. Yang penting tidak terjadi lagi banjir di Bantul,” tandas Sultan.

Bupati Bantul Suharsono mengakui, kondisi dan letak wilayah Bantul mempunyai karakteristik yang memungkinkan langganan banjir, karena menjadi penampungan air hujan dari Bantul sendiri, Sleman, Yogyakarta dan sebagian Gunungkidul. Selain itu, tanah perbukitan di Bantul yang umumnya berupa tanah liat, sangat mudah menjadi lembek dan rawan longsor jika terkena air hujan.

“Apalagi jika hujan berlangsung beberapa hari, perbukitan di Bantul terutama di Imogiri, Piyungan, Pundong, Dlingo menjadi rawan longsor,” jelas Suharsono.

Untuk menanggulangi banjir, Pemkab Bantul mengarahkan masyarakat terutama di daerah rawan banjir, untuk selalu mengoptimalkan saluran air, membuat peresapan air hujan, membuat penampungan atau embung dan lainnya, untuk mengurangi volume air hujan yang menggenangi permukiman penduduk. Tetapi karena aliran dan limpahan air hujan sangat besar, sehingga banjir tidak dapat dihindari lagi.

Khusus aliran Sungai Celeng di Imogiri, setiap tahun memang selalu banjir dan banjir Minggu (17/03/2019) lalu merupakan yang terbesar selama belasan tahun terakhir. Padahal jika musim kemarau Sungai Celeng nyaris tak ada airnya. Jadi luapan air Sungai Celeng hanya berasal dari air yang mengalir dari pegunungan sekitar Wukirsari.

Karena itu, seperti arahan Gubernur, pencegahan banjir Sungai Celeng hanya bisa dilakukan dengan optimalisasi kelancaran saluran air agar tidak mengarah ke Sungai Celeng, membuat gorong-gorong, memecah aliran sungai, dan pembuatan embung. (Ira/Jdm)