Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Rabu, 20 Maret 2019 / 21:34 WIB

Jambore Pandu sekolah Hasilkan Generasi Milenial Cerdas Bermedsos

SURABAYA, KRJOGJA.com - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani berharap Jambore Pandu Sekolah Model 2019 yang diselenggarakan di Surabaya Jawa Timur menanamkan nilai-nilai kebhinekaan dan persatuan di tengah ancaman sebaran paham intoleransi dan berita bohong sekarang ini.

“Jangan pernah membeda-bedakan kita dari mana asal, kita siapa, suku kita dari mana, atau agama kita itu apa. Karena kita ini adalah bangsa Indonesia, kita rakyat Indonesia dan akar kita itu nggak boleh hilang seumur hidup dari diri kita, karena kita adalah orang Indonesia,” Demikiam Menko PMK Puan Maharani kepada para pramuka peserta jambore di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Ketintang Surabaya, Rabu (20/3 2019)

Puan menerangkan saat ini banyak sekali terjadi penyebaran berita bohong atau hoaks, terlebih penyebaran melalui di media sosial di era perkembangan teknologi.

“Banyak sekali sekarang hoaks yang bertebaran atau berita-berita tidak benar yang sekarang ini berseliweran. Karena memang generasinya generasi gadget,” ujarnya.

Oleh karena itu Puan mengajak masyarakat Indonesia harus bisa berkompetisi di era globalisasi, namun jangan sampai melupakan akarnya sebagai bangs Indonesia.

“Kita harus ikut era globalisasi kita nggak boleh ketinggalan zaman, tapi ingat lagi darimana kita berasal. Indonesia itu sekarang ini sudah diikat oleh Pancasila yang sudah disepakati bersama oleh para pahlawan dan pejuang bangsa dengan semua argumentasi dari diskusi yang sangat dalam,” katanya.

Generasi Z, adalah generasi milenial dari tahun 1996-2012 yang merupakan generasi yang nantinya insyaallah akan membawa bangsa Indonesia ini kedepannya menjadi baik, bagus, tidak baik atau tidak bagus” demikian yang disampaikan oleh Menko PMK, Puan Maharani, dalam pembukaan Jambore Pandu Sekolah Model dalam rangka penguatan pendidikan karakter dan ekspresi kebudayaan Provinsi Jawa Timur 2019.

Lebih lanjut Menko PMK mengatakan bahwa saat ini banyak sekali berita-berita hoax yang bertebaran dimasyakarat, karena saat ini bangsa Indonesia berada dalam generasi gadget, untuk itu Menko PMK berpesan agar para peserta Jambore dapat mempergunakan gadget dengan sebaik-baiknya.

Dalam kesempatan ini juga Menko PMK menjelaskan bahwa saat ini keberagaman Indonesia sudah diikat oleh Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Kedua hal ini sudah disepakati bersama oleh para pejuang bangsa terdahulu yang membuat kita semua tetap menjadi bangsa Indonesia dan rakyat Indonesia.

Menko PMK juga menyampaikan bahwa yang paling penting dilakukan dalam Jambore ini adalah selain mempelajari hal-hal terkait kepramukaan juga mempelajari karakter bangsa Indonesia sebagai bentuk jiwa nasionalisme bangsa Indonesia.

Menko  PMK juga mengajak peserta Jambore untuk melakukan perubahan melalui revolusi mental, dari yang belum baik menjadi yang lebih baik, salah satunya dengan mengembalikan lagi arah Indonesia jangan sampai terpecah belah dan juga jangan sampai pancasila itu semata-mata hanya kalimat saja yang tidak diimplementasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari.

Diakhir sambutannya Menko PMK berharap agar Jambore ini menjadi ajang bagi  anak-anak muda untuk mau berbagi dengan sesama, baik sebagai keluarga, bangsa Indonesia serta mau mengamalkan pancasila, keberagaman atau Bhineka Tunggal Ika di Indonesia sehingga tidak terpengaruh dengan hal-hal yang  berbau hoax lagi. 

Kegiatan Jambore ini bertujuan agar pikiran dan hati anak-anak para peserta dapat merasakan bahwa nasionalisme, NKRI, pancasila dan kebhinekaan mejadi satu hal yang harus dapat  kita jaga bersma-sama. 

Sebelumnya Menko PMK juga menyematkan tanda peserta dan pemakaian topi rimba secara simbolis kepada empat siswa berprestasi. Hadir dalam acara ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy; Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa; Ketua DPRD Surabaya, Armuji; Wakil Walikota Surabaya, Whisnu Sakti Buana; Kepala LPMP Jawa Timur, Bambang Agus Susetyo; serta beberapa perwakilan lainnya. 
Sedangkan Hamid Muhammad Dirjen Dikdasmen mengatakan
Jambore Pandu Sekolah Model tahun 2019 merupakan rangkaian pelaksanaan penguatan pendidikan karakter guna terciptanya mutu pendidikan yang lebih baik untuk menyongsong generasi Indonesia emas tahun 2045. Kegiatan ini terinisiasi oleh Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

Jambore ini digagas oleh LPMP Jawa Timur dan didukung oleh Direktorat Sejarah Ditjen kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Peserta kegiatan jambore tahun ini diikuti oleh 38 sekolah model binaan LPMP Jawa Timur yang berasal dari seluruh kabupaten kota di Jawa Timur. Sekolah tersebut meliputi jenjang SD, SMP, SMA dan SMK yang terdiri dari 190 siswa, 38 pengawas sekolah, 38 kepala sekolah, dan 1500 guru peserta jambore dan seminar.

Pendidikan jambore meliputi tampilan stan para peserta, pendirian tenda kepramukaan, lomba poster bagi siswa, kegiatan kepramukaan, tampilan seni dan kebudayaan dari masing-masing kabupaten-kota di Jawa Timur yang merupakan bagian dari kearifan lokal.
(Ati)