Wisata Editor : Agung Purwandono Kamis, 21 Maret 2019 / 07:42 WIB

Jangan Mencoba Mencuri Kayu Hutan Adat Wonosadi Rumah Bisa Terbakar

HATI- hati jika mencuri kayu  di Kawasan hutan adat. Jika untuk rumah, bisa  terbakar, minimal cepat rusak. Ini kepercayaan masyarakat sekitar Wonosadi, Ngawen Gunungkidul. Dan mitos semacam inilah yang ternyata sangat ampuh untuk melindungi hutan ada di bukti Wonosadi tersebut.

“Ini meringankan tugas para Jagawana, yang harus melindungi hutan itu” kata Sumarno SSos, ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) keoada KRjogja.com.

Maka jangan heran, meski di wilayah yang terkenal kurang air jika musim kemarau, tapi tidak di Wonosadi. Tampak air mengalir dimana-mana. “Kami merasa nyaman, meski kemarau tak pernah kesulitan air” kata Kamto, salah satu warga setempat.

Wilayah Wonosadi sarat akan tradisi, dan atraksi budaya. Tim yuri Pokdarwis dari Dinas Pariwisata DIY, terdiri dari Sri Purwati (Dinas Pariwisata DIY), Ir Condroyono, Sudiyanto (ketua ASITA DIY), Octo Lampito (KR), Henry B (Puspar UGM), Herman Tony (PHRI DIY), Doni (HPI) DIY diisuguhi hamparan panorama yang menawan.  Gugusan batu besar terserak dimana-mana, sementara di hutan adat, banyak terdapat mata air yang mengucur dimana-mana.

Sebenarnya hutan adat Wonosadi, adalah anak bukit Gunung Gambar yang miring ke selatan ketinggal 400-500 mdpl. Bukan hanya padat kisah sejarah dan kaya akan flora dan fauna saja, namun desa tersebut punya upacara adat Sadranan.

Masyarakat sangat menjaga kelsetarian lingkungan bertahun-tahun. Untuk masuk hutan, disediakan tangga hingga ke puncak. Konon, acara Sadranan awalnya karena pengiriman makanan Roro Resmi yakni ibu tokoh masyarakat setempat, Onggoloco.

Acara dilaksanakan setiap tahun usai panena padi. Ada keharusan tiap keluarga membawa sesaji ke hutan tersebut berupa panggan tumpeng, pisang raja, air tape dan makanan lain hasil pertanian setempat.

Intinya, masyarakat desa Beji tersebut, mohon kepada Tuhan agar arwah leluhurnya diberi kenikmatabn di akherat. Agar anak cucu yang ditinggalkan diberi kenikmatan, kelimpahan rejeki, dan juga dijauhkan dari segala marabahaya.

Sementara wisatawan, bisa menikmati makanan di bawah pohon rindang sambal mendengarkan music rinding. Musik khas yang mayoritas alatnya dari bambu. Warga setempat memang banyak membuat kerajinan dari bambu dan batang kelapa.

Nah, jangan lupakan makanan tradisional seperti ingkung bakar. Yakni ayam dimasak ingkung tetapi dikabar, nasi lodeh tempe dan tahu buatan warga setempat serta kerupuk rambak. (Ioc)