DIY Editor : Ivan Aditya Selasa, 19 Maret 2019 / 20:18 WIB

Oknum Dukuh dan Guru Honorer Terlibat Sindikat Pembuat Upal

SLEMAN, KRJOGJA.com - Jajaran Polsek Godean berhasil membongkar sindikat pembuat uang palsu (upal) yang diotaki oleh seorang oknum Dukuh. Tak tanggung-tanggung kawanan ini mencetak upal pecahan Rp 100 ribu dengan nominal mencapai 4,6 miliar. Gerobolan ini mengedarkan upal dengan cara membelanjakan angkringan maupun pasar-pasar tradisional di DIY hingga Jawa Tengah (Jateng).

Keempat pelaku masing-masing HS (39) merupakan Dukuh di salah satu dusun di Pati Jateng berperan sebagai pembuat upal, dibantu oleh EY (51) seorang sopir dan Ny (56) yang bekerja sebagai petani keduanya warga Magelang Jateng. Sindikat ini juga melibatkan peran seorang guru honorer di Pati, IK (46) yang bertugas mengedarkan upal tersebut.

Aksi gerombolan ini terungkap berkat adanya laporan dari seorang penjual angkringan di kawasan Godean yang mengaku mendapatkan upal pecahan Rp 100 ribu dari seorang pembeli. Bahkan pembeli yang diketahui sebagai tersangka IK tersebut lima kali belanja makanan di angkringan tersebut dengan membayar menggunakan upal.

Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yuliyanto mengungkapkan laporan tersebut kemudian ditelusuri dan dalam pengembangan berhasil menangkap IK di sebuah angkringan kawasan Sidoluhur Godean. Tersangka yang kost di Jowah Sidoluhur kemudian diminta untuk menunjukan barang bukti dan ditemukan upal pacahan Rp 10 ribu, Rp 50 ribu, Rp 100 ribu dengan nominal mencapai 17.200.000.

“Dari keterangan pelaku satu tersebut diperoleh keterangan uang yang disimpan di kontrakan di peroleh dari HS. Petugas kemudian memancing HS dan akhirnya berhasil menangkapnya di Jalan Godean, barat perempatan Godean,” ungkap Yulianto di Mapolsek Godean, Selasa (19/03/2019).

Dengan ditangkapnya otak sindikat, satu persatu pelaku lain yakni EY dan Ny turut diciduk petugas. Dari tangan HS berhasil diamankan 3.165 lembar upal pecahan Rp 100 ribu yang belum dipotong, laptop, printer, kertas HVS, tinta serta bahan-bahan yang digunakan untuk mencetak lainnya.

“Dari pengakuannya tersangka HS bisa membuat upal secara otodidak dengan belajar dari YouTube. Ia kemudian mempraktekkan dengan mencetak upal menggunakan alat printer,” jelasnya.

Selama ini sindikat ini selalu berpindah-pindah dalam mengedarkan upal. Selain di Sleman, kawanan ini juga telah mengedarkan uang buatan mereka di Pati, Magelang bahkan hingga Mojokerto Jatim dan Lampung.

Sindikat ini menjualnya upal yakni 5 juta dijual seharga Rp 1 juta. Di hadapan petugas, HS mengaku terpaksa membuat upal lantaran dirinya tengah terlilit utang. (Ive)