DIY Editor : Ivan Aditya Selasa, 19 Maret 2019 / 02:18 WIB

Penderita DBD di Sleman Capai 218 Orang

SLEMAN, KRJOGJA.com - Jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dari Januari hingga Maret 2019 sudah sekitar 218 orang. Jika tak dikendalikan, dapat berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD, karena kenaikan jumlah penderita dengan tahun kemarin signifikan. Untuk itu masyarakat diimbau dapat menjaga kebersihan lingkungan agar jumlah penderita tidak terus bertambah.

Kabid Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman, dr Novita Krisnaeni MPH mengatakan selama tahun 2018, jumlah penderita DBD hanya 144 orang dengan 1 orang meninggal dunia. Sementara selama tiga bulan ini, jumlah penderita sudah mencapai 218 orang.

"Dengan rincian, Januari ada 111 orang, Februari 102 orang dan Maret 5 orang. Peningkatkan yang signifikan ini karena siklus 4 tahun yang biasanya selalu ada peningkatan cukup drastis," ungkap Novita.

Jika tidak ada pengendalian dari masyarakat, kondisi ini berpotensi menjadi KLB DBD. Langkah untuk pengendalian di antaranya pemberantasan sarang nyamuk (PSN), kebersihan lingkungan dan lainnya.

"Ya memang saat ini jika dilihat dari pola maksimal, masih belum sampai angka maksimal yaitu 133 untuk bulan Januari. Tapi kalau tidak dikendalikan, sangat berpotensi KLB DBD," ujarnya.

Menurutnya, gerakan PSN serta Menguras, Menutup dan Memanfaatkan kembali atau daur ulang (3M plus) dinilai cukup efektif untuk mencegah DBD. Sedangkan fogging merupakan pilihan terakhir untuk membasmi nyamuk penular DBD.

"Kalau PSN dan 3M plus ini bisa memberantas mulai jentik-jentik nyamuk. Sementara fogging hanya nyamuk dewasa saja," terangnya.

Sedangkan kecamatan yang masuk endemisitas tinggi, di antaranya Gamping, Depok, Kalasan, Ngaglik, Mlati. Kecamatan yang masuk endemis tinggi ini biasanya karena mobilitas masyarakat cukup tinggi. Selain itu merupakan kawasan padat penduduk dan berada di perbatasan kota.

"Justru di daerah yang padat penduduk, risiko terkena DBD cukup tinggi. Selain itu mobilitas masyarakat yang tinggi juga mempengaruhi," katanya. (Sni)