DIY Editor : Ivan Aditya Selasa, 19 Maret 2019 / 01:16 WIB

Sabuk Hijau Lindungi NYIA dari Tsunami

KULONPROGO, KRJOGJA.com - Project Manager Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) PT Angkasa Pura (AP) I, Taochid Purnama Hadi menegaskan pihaknya sudah membuat mitigasi terhadap potensi bencana dan ancaman keselamatan operasi penerbangan di NYIA. Mitigasi gempa bumi dan tsunami antara lain mencakup penanganan di area pesisir selatan NYIA sepanjang Pantai Glagah Kecamatan Wates sampai Pantai Congot Kecamatan Temon.

“Area tersebut harus disterilkan dari aktivitas penduduk dan dibenahi menjadi kawasan green belt atau sabuk hijau sebagai fasilitas penunjang bandara dalam mitigasi bencana,” ucap Taochid.

Sabuk hijau dimaksud untuk melindungi NYIA dari potensi ancaman bencana tsunami sekaligus mencegah abrasi. Apalagi runway atau landasan pacu berada dekat pantai. Kalau di area tersebut ada aktivitas penduduk, usaha penginapan dan lalulalang pengguna jasanya, dikhawatirkan ada pihak tertentu yang memanfaatkannya dan membawa ancaman terhadap keselamatan pengguna jasa penerbangan di NYIA.

“Sebisa mungkin area dekat runway tidak ada penginapan karena rawan. Dikhawatirkan ada ancaman tertentu. Kalau di situ ada penduduk, percuma juga mitigasi kita buat,” jelasnya.

Taochid berharap ada penanganan dan penataan kawasan selatan NYIA dilakukan bersama pemda dan pemilik lahan (Pura Pakualaman). Pihaknya sangat berharap pemkab dan pemilik lahan bersama-sama menyiapkan green belt sebagai mitigasi bencana. Termasuk penanaman pohon cemara udang untuk menghijaukan green belt.

PT AP I siap membantu jika dibutuhkan, termasuk menyiapkan alat berat untuk penataan lahan tersebut. Taochid mengapresiasi konsep penataan kawasan Pantai Glagah yang sudah disusun oleh Dinas Pariwisata Kulonprogo. Konsep tersebut dinilai memiliki rancangan penataan yang bagus dan mematuhi prinsip Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) NYIA dengan tidak adanya bangunan tinggi.

Namun penyusunan Detailed Engineering Design (DED) penataan kawasan Pantai Glagah menjadi destinasi wisata air dan kuliner baru yang dilakukan Dispar mendapat protes para pelaku usaha meliputi petambak, pemilik penginapan dan warung. Mereka khawatir tergusur dan kehilangan sumber pendapatan serta menuding pemerintah tidak pernah berkomunikasi dengan warga.

Menanggapi hal tersebut Bupati dr Hasto Wardoyo mengatakan rencana penataan masih berupa konsep. Sosialisasi akan dilakukan sebelum penataan dimulai. Hasto menegaskan bangunan penginapan serta areal tambak di selatan NYIA tetap harus digusur karena ilegal. (Rul)