Peristiwa Editor : Ivan Aditya Senin, 18 Maret 2019 / 22:53 WIB

Rupiah Menguat, Rp 14.240 per Dolar Amerika

JAKARTA, KRJOGJA.com - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.240 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Senin (18/03/2019) sore. Dengan posisi tersebut, rupiah menguat 0,14 persen dibandingkan penutupan pada Jumat (15/03/2019) yang di level Rp14.260 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.242 per dolar AS atau menguat dibanding Jumat yang hanya Rp14.310 per dolar AS. Adapun, rupiah hari ini diperdagangkan di kisaran Rp14.222 per dolar AS hingga Rp14.245 per dolar AS.

Sore ini, sebagian besar mata uang Asia menguat terhadap dolar AS. Rupee India menguat sebesar 0,82 persen, won Korea Selatan menguat 0,44 persen, ringgit Malaysia menguat 0,35 persen, dan dolar Singapura sebesar 0,11 persen. Kemudian yuan China menguat sebesar 0,01 persen terhadap dolar AS.

Namun, ada beberapa mata uang yang justru melemah terhadap dolar AS seperti baht Thailand sebesar 0,03 persen, yen Jepang sebesar 0,04 persen, dan peso Filipina sebesar 0,09 persen. Di sisi lain, dolar Hong Kong terlihat tidak menunjukkan pergerakan terhadap dolar AS.

Di sisi lain, mata uang negara maju seperti poundsterling Inggris melemah 0,19 persen. Namun, Euro dan dolar Australia masing-masing menguat sebesar 0,16 persen dan 0,4 persen terhadap dolar AS. Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan penguatan rupiah kali ini merupakan imbas dari pengaruh internal dan eksternal.

Dari luar negeri, data ekonomi AS tercatat masih lemah setelah Jumat (15/3) lalu pemerintah AS merilis data manufaktur AS pada Februari yang turun 0,4 persen. Penurunan tersebut melanjutkan tren pelemahan sebelumnya.

Dengan demikian, maka akan ada ekspektasi bahwa bank sentral AS The Fed tak akan menaikkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat. Kemudian, pelaku pasar juga sedikit lega dengan proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa, atau biasa disebut Brexit, setelah parlemen Inggris dan Perdana Menteri Theresa May sepakat untuk menghindari keluarnya Inggris tanpa kompensasi, atau biasa disebut dengan no-deal Brexit. (*)