DIY Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 18 Maret 2019 / 15:51 WIB

Sekolah di Muhi, Cak Nun Takut sama Syukri Fadholi


YOGYA, KRJOGJA.com - Pergelaran seni bertajuk Indonesia Bersyukur yang digagas alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (Muhi) sukses digelar Minggu (17/3/2019) malam di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Meski di tengah guyuran hujan, namun syahdunya malam tetap tercipta diantara ratusan alumni yang hadir. 

Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun turut hadir dan sempat menyampaikan cerita nostalgia selama bersekolah di Muhi. Cak Nun sendiri merupakan alumni Muhi angkatan 1971. 

Cak Nun mengungkap di tahun-tahun ia bersekolah di Muhi, kondisinya sangat jauh daripada saat ini. Dinding ruang kelas kala itu disebutnya masih gedhek (anyaman bambu) dan berbeda dari tembok megah saat ini. 

“Namanya juga anak SMA ya usil, gedhek itu dithithili, dicabuti dan dipatahkan satu demi satu untuk nginjen (mengintip) pelajar putri saat memasuki halaman sekolah. Saya menyesal Muhi sekarang dibangun bagus. Zaman saya SMA, roke semene. Dulu, seragam seperti itu hal biasa. Belum ada kerudung atau jilbab seperti para pelajar sekarang ini,” ungkap Cak Nun sedikit mengangkat kakinya menggaris di bagian di atas lutut.

Cak Nun menyebut, kala itu tidak ada hal yang tak diinginkan meski pelajar putri tak menggunakan hijab seperti saat ini. “Ya karena jiwa kita waktu itu masih murni sehingga tidak terangsang. Saiki, nganggo jilbab rambute metu sithik wae,” sambungnya disambut tawa. 

Di kesempatan tersebut, Cak Nun juga menceritakan sosok yang begitu ditakutinya saat bersekolah di SMA Muhi. Syukri Fadholi yang pernah menjadi Wakil Walikota Yogyakarta dan tokoh masyarakat saat ini ternyata tak bisa dilupakan. 

“Dulu yang ngospek saya Pak Syukri Fadholi, Pak Syukri angkatan 1970, satu tahun di atas saya. Sampai sekarang ya tetap ingat dengan beliau itu,” imbuh Cak Nun terkekeh. 

Cak Nun juga mengingatkan seluruh alumni agar tak lupa bersyukur tanpa harus menunggu kaya. “Bersyukur rasah ngenteni nduwe duit akeh. Tidak ada alasan untuk setiap detik selalu bersyukur. Punya duit banyak bisa berarti hukuman, ujian atau peringatan. Alat bersyukur bisa apa saja,” pesan penggagas Kiyai Kanjeng ini. 

Sementara dalam acara tersebut hadir pula beberapa alumni Muhi seperti Busyro Muqqodash, Ebiet G Ade, hingga Dhyen pendiri band dangdut Om Wawes. Meski hujan deras, acara tetap sukses terselenggara hingga Om Wawes menghibur titik 0 kilometer. (Fxh)