Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Minggu, 17 Maret 2019 / 10:24 WIB

Merah Putih Raksasa Terbentang di Bukit Kemuning

BENDERA merah putih berukuran 30X20 meter terbentang di hamparan kebun teh Bukit Kemuning, Desa Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar, Sabtu (16/3). Sedangkan seratusan bendera merah putih lain berukuran lebih kecil, berkibar mengelilinginya.

Ratusan warga Kemuning dari berbagai latar belakang suku, agama, organisasi serta pandangan politik, seakan melebur dalam khidmatnya upacara bendera dalam rangka apel kebangsaan bertema Amanat Dari Desa Untuk Indonesia. Usai lagu kebangsan berkumandang, mereka mengibar-kibarkan replika bendera merah putih diiringi lagu Indonesia Pusaka.

“Acara hari ini, kita kemas apel kebangsaan. Untuk menguatkan warga masyarakat di Karanganyar. Kita mengundang seluruh lintas agama, organisasi yang hadir mengikuti apel kebangsaan. Menguatkan rasa nasionalisme karena kita berada di negara sama, NKRI. Banyak perbedaan, namun di situ merupakan kekuatan utama menjaga kedaulatan,” kata Penasihat Kegiatan Apel Kebangsaan Widadi Nur Widiyoko.

Bendera besar yang dibentangkan di puncak bukit, menurutnya, dimaknai sebagai negara besar bernama Indonesia yang berpenduduk majemuk dan harus dijaga bersama agar senantiasa hidup rukun. Bendera itu sebelumnya diarak menuju puncak bukit oleh para pemuda dari keluarga besar Nahdatul Ulama (NU), diikuti pasukan paskibraka dan pemuka agama. Ribuan jemaah pengajian ikut menyaksikan momentum istimewa itu.

“Kegiatan ini murni untuk mengajak masyarakat agar hidup rukun, damai. Bukan untuk dukung mendukung salah satu pasangan calon paslon. Ini mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan pemilu sebagai sebuah pertentangan. Sebab kami semua ingin maju bareng, bersama-sama memajukan Indonesia. Keinginan kami warga desa menginginkan Indonesia tetap utuh dan maju,” imbuhnya.

Usai pengibaran bendera, masyarakat disuguhi aksi paralayang dari Bukit Cinta. Tak sedikit peserta upacara mengabadikannya dengan kamera ponsel. Mereka juga mendapat siraman rohani dari KH Ahmad Muwafiq. Adapun orasi kebangsaan dipimpin oleh Budi Djarot dari Gerakan Jaga Indonesia. 

“Siapa yg ganggu Indonesia, kita singkirkan dari Indonesia,” kata Djarot. (Abdul Alim)