DIY Editor : Ivan Aditya Sabtu, 16 Maret 2019 / 00:47 WIB

Kiki Tak Mau Hanya Modal Seksi

MUSIK dangdut selalu identik dengan goyang dan jogetannya. Tanpa goyang, dangdut terasa kurang ‘nendang’ dan hanya sebatas tontonan hiburan panggung biasa. Penyanyi dangdut juga dituntut harus tampil cantik lagi seksi saat pentas, hal itu tak lain agar bisa memuaskan hati para penggemar.

Namun anggapan itu tak berlaku bagi Dhee Kiki. Penyanyi cantik yang merintis karirnya di panggung dangdut Yogya ini menganggap kualitas vokal tetap menjadi faktor utama bagi seorang biduan. Soal seksi, menurut perempuan berambut pendek ini hal tersebut merupakan faktor penunjang saja.

“Tetap yang utama adalah kualitas vokal. Percuma saja cantik dan seksi kalau vokalnya nol. Penyanyi itu yang akan dinilai suaranya, bukan penampilannya. Masalah cantik atau seksi itu anggap aja sebagai bonus,” ujar Kiki.

Hal itulah yang dibuktikan putri pasangan Wawan Subandi dan Nanik tersebut. Di kalangan para penyangi dangdut, vokal Kiki terdengar sangat khas. Apalagi saat ia mengambil nada-nada tinggi, suaranya yang sedikit serak itu mampu mencapainya dan tetap terdengar merdu.

Perempuan asli Magelang Jawa Tengah (Jateng) ini mengaku melatih kemampuan suaranya sejak kanak-kanak. Maklum saja Kiki saat kecil hingga remaja merupakan anggota paduan suara di gereja, di sana ia mengetahui teknik-teknik dasar vokal maupun mengolah nafas agar tetap stabil saat bernyanyi.

Bakat itulah yang kemudian dijadikan penggemar warna merah ini sebagai bekal untuk berani terjun ke dunia hiburan lokal saat itu. Sebenarnya jalur musik yang dikuasai Kiki awalnya bukanlah dangdut, ia lebih nyaman untuk membawakan lagu-lagu pop maupun slow saat di atas panggung.

Namun dari pergelutannya dalam dunia pangung ke panggung membawa Kiki pada musik dangdut yang justru melambungkan namanya menjadi tenar. Dari situlah Kiki menemukan jati diri hingga akhirnya ia memutuskan untuk menggeluti lagu-lagu dangdut.

“Awalnya tahun 2012 malah bukan dangdut, namun kini lebih konsen ke musik itu. Jadi sekarang kalau diminta untuk nyanyi pop OK, dangdut juga bisa. Diminta untuk nyanyi lagu tempo yang agak cepat juga siap,” kata penyanyi yang hobi makan ini.

Agar kualitas vokalnya tetap terjaga Kiki setiap bangun pagi selalu mengkonsumsi air putih hangat. Kebiasaan itu telah lama dilakukannya agar tenggorokan yang kering selama tidur malam tidak kaget untuk makan pembuka nantinya. Ia juga menghindari makan gorengan maupun mengkonsumsi sesuatu yang berminyak karena itu dapat memicu batuk.

Walau lebih memperhatikan vokalnya, namun anak ‘mbarep’ dari tiga bersaudara ini tetap profesional dalam mengeluti seni hiburan dangdut. Jika dituntut untuk tampil seksi sekalipun, sebagai penyanyi Kiki mengaku tetap akan memenuhinya.

“Saya berusaha untuk profesional dalam bidang ini. Jadi jika tuntutan meminta tampil seksi, selama itu dalam batas wajar maka akan saja jalani,” kata perempuan kelahiran 27 Februari 1995 ini.

Selama berkarir dalam panggung dangdut, beberapa kota pernah disinggahi Kiki untuk pentas. Penggemar dangdut di Balik Papan Kalimantan Timur, Bali hingga paling jauh sampai Papua tentunya masih ingat bagaimana Kiki mengoyang panggung dengan suara merdunya.

Kiki menyadari jika profesi dalam dunia hiburan ini tak selamanya bisa mengantarkan untuk tetap berada di atas panggung. Ada masanya cahaya popularitas yang dimiliki Kiki akan redup dan tergantikan penyanyi-penyanyi baru dengan segala kelebihannya.

Untuk mempersiapkan itu semua Kiki sejak beberapa tahun lalu sudah membuka usaha, salah satunya yakni produksi kaos. Dari usahanya inilah ia berusaha banting stir dari penyanyi dangdut menjadi seorang entrepreneur.

“Uang dari manggung ditabung dan untuk membuka usaha. Jadi jika nanti sudah tidak nyanyi lagi setidaknya sudah punya pegangan untuk hidup sehari-hari,” ungkapnya.

Perempuan yang mengidolakan sang nenek ini mengaku, selama ini ia banyak belajar dari sosok yang dikaguminya itu. Neneknya selalu mengajarkan kepada Kiki untuk selalu hidup mandiri dan tak merepotkan orang lain meski usia sudah tua.

“Ia manusia tersabar dan mandiri yang pernah saya kenal. Eyang selalu berbagi ilmu dan mengajari semua tentang kehidupan ini. Saya ingin seperti beliau, pada masa tuanya tidak merepotkan orang lain,” pungkasnya. (Van)