DIY Editor : Ivan Aditya Sabtu, 16 Maret 2019 / 00:22 WIB

Bangunan NYIA Terapkan Ornamen Budaya Lokal Yogya

KULONPROGO, KRJOGJA.com - Bangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di kawasan pesisir Selatan Kecamatan Temon mengusung konsep eco green airport atau ramah lingkungan serta menampilkan kearifan lokal yang bernilai seni budaya Yogyakarta di hampir setiap sudut bandara. Salah satunya bangunan terminal penumpang, atapnya menggunakan skylight atau kubah kaca untuk memaksimalkan pencahayaan alami di dalam ruangan.

Dengan konsep kubah seperti itu memungkinkan cahaya matahari bisa menyinari setiap sudut ruangan sepanjang hari sehingga lebih hemat listrik. "Skylight mengurangi penggunaan listirik. Kalau siang hari, lampu dikurangi dan memaksimalkan penggunaan cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan untuk penerangan," kata Project Manager Pembangunan NYIA, PT Angkasa Pura (AP) I, Taochid Purnama Hadi, Jumat (15/03/2019).

Rencananya skylight diterapkan secara total pada bangunan terminal penumpang NYIA yang nantinya memiliki keluasan total sekitar 180.000 meter persegi. Dengan demikian, penerangan bangunan NYIA akan mengoptimalkan pencahayaan alami, matahari.

Demikian juga bangunan Masjid Al Akbar di Kompleks NYIA tepatnya di utara bangunan terminal penumbang menggunakan skylight. Sekilas, bentuk masjid tersebut hampir sama dengan rumah tahan gempa berbentuk dome.

Masjid Al Akbar tidak memiliki dinding karena dibuat dengan konsep terbuka sehingga pencahayaan alami serta sirkulasi udara bisa maksimal. "Masjidnya tidak perlu AC dan penggunaan lampunya bisa dikurangi. Sudah beberapa kali dipakai untuk ibadah dan hawanya adem karena terbuka. Kami mau mengejar untuk penilaian greenship bangunan," tuturnya.

Lebih lanjut Taochid mengungkapkan, NYIA mengusung unsur-unsur budaya Yogyakarta dalam desainnya. Seperti atap skylight bangunan terminal dibikin dengan bentuk motif batik kawung atau berupa bulatan-bulatan yang tersusun rapi secara geometris.

Kawung juga dihadirkan pada bagian tepi bangunan masjid serta panel dinding di ujung fixed bridge atau jembatan penghubung ruang tunggu terminal penumpang dengan pesawat. Sudut-sudt lain NYIA juga akan menggunakan ornamen lokal.

Di antaranya, pintu keluar masuk utama bandara dibuat model lawang papat, relief kehidupan masyarakat lokal pada gate dan suasana Malioboro di lorong koridor penghubung bangunan terminal dengan gedung parkir kendaraan. Di lantai dasar ruang terminal penumpang juga ada miniatur istana taman air Keraton Kasultanan Yogyakarta, Tamansari, lengkap dengan kolam airnya.

"NYIA akan memunculkan ornamen batik kawung dan ini sudah disetujui banyak pihak sebagai kearifan lokal yang ditampilkan. Gedung aircraft traffic control atau ATC juga biasanya mengadopsi kearifan lokal tiap daerah namun saya tidak tahu detailnya karena yang menangani Airnav," ungkap Taochid.

Secara terpisah Bupati dr Hasto Wardoyo menyampaikan harapannya agar sentuhan final bagian dalam NYIA mencerminkan miniatur budaya lokal dan itu memang menjadi harapan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono (HB) X. NYIA harus diwarnai konten budaya lokal. (Rul)