Ekonomi Editor : Agung Purwandono Jumat, 15 Maret 2019 / 18:31 WIB

Trend Konsumsi LPG Non Subsidi di Yogyakarta Terus Meningkat

YOGYA, KRJOGJA.com - PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region IV Wilayah Jawa Tengah dan DI Yogya mencatat kenaikan trend konsumsi LPG non subsidi di wilayah Yogyakarta sebesar 54 %. Salah satu penyebabnya karena adanya fitur keamanan berkatup ganda.

"LPG Non Subsidi seperti Bright gas saat ini digemari oleh masyarakat karena fitur keamanan berkatup ganda (double spindle valve system) dan warnanya yang menarik. Selain itu, dengan tersedianya ukuran bright gas 5,5 kg sangat memudahkan para kaum wanita untuk membawa tabung tersebut," kata Senior Supervisor Communication & Relationship Pertamina MOR IV Arya Yusa Dwicandra, Jumat (15/3/2019).

Menurut Arya Yusa, kenaikan konsumsi LPG nonsubsidi dari 4.723 Metric Ton (setara 858,000 tabung LPG bright gas 5,5 kg) pada tahun 2017 menjadi 7.294 Metric Ton (atau setara dengan 1,326,181 tabung LPG bright gas 5,5 kg) untuk tahun 2018.

Trend ini memang meningkat setiap tahunnya dimana pada tahun 2016 ke 2017 juga terjadi peningkatan sebesar 179% yaitu dari 1,695 Metric Ton menjadi 4,723 metric ton.

Adapun peningkatan di setiap daerah di wilayah Provinsi DI Yogyakarta cukup tinggi.  Kabupaten Bantul, tahun 2016 ke  2017 meningkat 269% (151 Metric Ton ke 558 Metric Ton). Tahun 2017 ke 2018 meningkat 67% (558 metric ton ke 931 metric ton)

Di Kabupaten Kulon Progo tahun 2016 ke 2017 meningkat 185% (214 Metric Ton ke 609 Metric Ton). Tahun 2017 ke 2018 meningkat 41% (609 metric ton ke 861 metric ton)

Sementara di Kabupaten Sleman : tahun 2016 ke 2017 meningkat 340% (246 Metric Ton ke 1.083 Metric Ton). Tahun 2017 ke 2018 meningkat 93% (1.083 metric ton ke 2.092 metric ton)

Sedang Kota Yogyakarta : tahun 2016 ke 2017 meningkat 128% (1.084 Metric Ton ke 2.474 Metric Ton). Tahun 2017 ke 2018 meningkat 38% (2.474 metric ton ke 3.409 metric ton) (Apw)