DIY Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 15 Maret 2019 / 10:54 WIB

WASPADAI BENCANA HIDROMETEOROLOGI

Maret, Intensitas Hujan Masih Tinggi

YOGYA, KRJOGJA.com - Iklim di wilayah DIY pada Maret ini masih masuk dalam kategori basah. Artinya, potensi hujan masih cukup tinggi dengan rata-rata hujan bulanan di atas 300 mm/bulan. Hal itu diperkuat dengan hasil analisa BMKG, dimana 2 sampai 3 hari ke depan masih berpotensi terjadi hujan lebat disertai petir dan angin kencang.

“Intensitas hujan di DIY yang masih cukup tinggi dipicu oleh adanya low pressure atau tekanan rendah di Samudera Hindia, Barat Jawa/Sumatera dan Utara Australia. Dengan kemunculan low pressure ini memberi dampak penguatan angin baratan atau monsoon Asia (dimana angin ini banyak mengandung uap air ),” kata Kepala kelompok data dan informasi Stasiun Klimatologi Yogyakarta Djoko Budiyono, MSi di Yogyakarta, Kamis (14/3).

Djoko mengungkapkan, saat ini terjadi pemanasan yang cukup kuat di sekitar perairan Jawa akibat posisi matahari yang berada di kisaran equator. Dampak dari pemanasan ini mengakibatkan terjadi penguapan dalam jumlah besar. Sehingga banyak terbentuk awan-awan berjenis konvektif seperti Comulonimbus atau CB. Awan jenis ini umumnya terbentuk disiang hingga sore hari. Meskipun durasinya pendek dan lokal namun masyarakat perlu mewaspadai potensi cuaca yang disebabkan oleh adanya awan CB. Seperti terjadinya hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir.

"Mengingat kondisi di atas masih akan berlangsung dalam 2-3 hari mendatang. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap mewaspadai kondisi cuaca ektrem yang bisa menyebabkan bencana hidrometeorologi. Seperti bahaya banjir, tanah longsor, angin kencang dan petir yang masih berpeluang muncul di wilayah DIY,” ungkapnya.

Ditambahkannya, guna meminimalisasi adanya korban sebagai dampak bencana hidrometeorologi. Pihaknya mengimbau agar masyarakat dan instansi terkait dapat mengantisipasi bencana alam yang kemungkinan muncul dan mengintensifkan koordinasi dengan stakeholders terkait.

Koordinasi itu perlu dilakukan, karena antisipasi terhadap bencana alam tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, sebaliknya butuh sinergitas lintas sektor. Dengan begitu saat bencana terjadi masyarakat bisa mengetahui langkah apa yang harus dilakukan.

"Setiap ada perkembang an cuaca terkini, kami selalu berusaha untuk menyampaikan ke masyarakat. Dengan cara itu, kami berharap masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan dan melakukan antisipasi sejak awal. Mungkin bagi sebagian masyarakat peningkatan intensitas hujan yang saat ini terjadi dianggap wajar. Namun BMKG akan selalu mengingatkan mereka terhadap ancaman banjir
dan tanah longsor,” tambahDjoko. (Ria)