Jateng Editor : Ivan Aditya Rabu, 13 Maret 2019 / 14:37 WIB

Pembenahan Akidah Kunci Narapidana Berubah

PURWOREJO, KRJOGJA.com - Ahmad Miftahudin (50), hidup sederhana bersama keluarga kecilnya di RT 01 RW 02 Dusun Sidolekas Desa Sudorogo Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Kesehariannya diisi dengan bertani di kebun dan dilanjutkan mengajari anak-anak kampungnya mengaji selepas salat Asar.

Lalu dilanjutkan menjadi imam salah Magrib, Isya dan Subuh bagi puluhan jamaah di Musala Darussalam yang ia urus. Waktu jeda antara salat itu kerap diisi dengan membaca Al Quran bersama jamaah atau tausiyah.

Siapa sangka itu pernah merasakan hidup di dalam Rutan Kelas II B Purworejo selama enam bulan. Ia hidup dalam sel mulai Oktober 2008 hingga April 2009 akibat kekerasan dalam rumah tangga. "Saya dulu pernah khilaf hingga dipenjara selama enam bulan," ungkapnya kepada KRJOGJA.com, Rabu (13/03/2019).

Menurutnya, ada penyesalan mendalam ketika berada dalam penjara. Ia memikirkan bagaimana istri dan anaknya menjalani hidup. Miftah juga bertanya-tanya apakah dirinya akan diterima ketika kembali ke masyarakat kelak.

Ia bertekad hidup lebih baik di dalam rutan untuk bekal setelah keluar. "Namun di dalam saya juga melihat, jika narapidana itu sangat butuh pembinaan ahlak sehingga mereka tidak kambuh dan kembali berbuat jahat. Saya mulai berpikir bagaimana membantu mereka," ucapnya.

Apalagi Miftahudin melihat pendidikan agama di rutan belum tertata dengan baik. Dua minggu setelah masuk bui, alumni pondok pesantren di Tegalrejo Magelang itu berinisiatif mengajari narapidana mengaji.

"Saat itu saya bersama almarhum Pak Kelik (Sumrahadi), beliau yang menyampaikan kepada kepala rutan dengan aktivitas mengaji, dan sejak itu mengaji dan pendidikan agama jadi prioritas," terangnya.

Saat itu ada kurang lebih 316 warga binaan dan seluruh narapidana muslim yang jumlahnya sekitar 307 orang, menjadi murid Ahmad Miftahudin. Mereka mengaji iqro, baca Al Quran, bacaan salat hingga fikih.

Namun enam bulan bukan waktu yang lama. Ahmad Miftahudin pun keluar penjara. Ternyata aktivitasnya selama di dalam rutan terdengar masyarakat dan ia pun disambut dengan baik ketika kembali ke Sudorogo. "Masyarakat masih percaya dengan saya, mereka tetap menitipkan anak-anak mengaji di musala," ucapnya.

Disela kebebasannya, Ahmad Miftahudin mendengar jika ada penurunan aktivitas mengaji dalam rutan. Ia prihatin dan mencoba menjalin komunikasi dengan pimpinan rutan, hingga berhasil sehingga pendidikan agama kembali jadi prioritas.

Ahmad Miftahudin mendapat tugas membantu pembinaan akhlak setiap Selasa, Kamis dan Sabtu. Dikatakan, agama membentuk akidah, kemudian akidah yang bagus terlihat dari akhlak atau perilakunya. Mereka kemudian melakukan introspeksi diri dan bertekad berubah. "Agama penting untuk membangun akidah narapidana, sebab di situ kunci perubahan mereka menjadi manusia yang lebih baik lagi," tegasnya.

Namun ada tantangan besar dalam usaha mengubah akhlak narapidana. Ujian itu muncul setelah mereka bebas dan kembali ke masyarakat. Stigma negatif sebagai 'orang jahat' kerap disematkan masyarakat dan berdampak mereka kesulitan membangun perekonomian keluarga.

"Ada yang berhasil menghadapi ujian, ada yang gagal. Mereka yang gagal biasanya kembali mengambil jalan pintas, melanggar hukum akhirnya kembali dipenjara," tuturnya.

Menurutnya, mantan narapidana membutuhkan pendampingan dan motivasi terus menerus, sehingga kuat menghadapi ujian hidup. "Ada beberapa yang konsultasi, saya ingatkan mereka untuk bersabar. Tetapi ada yang saya sarankan hijrah wajib bersama keluarga, mencari penghidupan ke tempat lain, alhamdulillah banyak yang berhasil di perantuan," terangnya. (Jas)