DIY Editor : Agus Sigit Selasa, 12 Maret 2019 / 13:33 WIB

Jawab Senjakala Industri Kopi Nusantara, Instiper Bentuk Institut Kopi Indonesia

SLEMAN, KRJOGJA.com - Industri kopi di Indonesia beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan signifikan. Maksimalisasi proses dari hulu ke hilir pun mulai digarap setelah melihat besarnya potensi yang ada di seluruh daerah Nusantara. 

Meski demikian, saat ini industri kopi di Indonesia belum terintegrasi dalam sebuah sistem yang berkeadilan. Hal tersebut mengancam keberlangsungan industri kopi kedepan karena para pelaku industri mencari fungsi profit dan strategi masing-masing untuk keuntungan sendiri. 

Hal tersebut disampaikan Dr Purwadi, Rektor Instiper Yogyakarta dalam seminar Pengembangan Penelitian dan Industri Perkebunan dan Pengolahan Kopi Selasa (12/3/2019). Hari ini, Instiper yang bertransformasi sebagai New Instiper with Advance Technology secara resmi juga melakukan soft launching Institut Kopi Indonesia. 

Purwadi mengungkap, Instiper sebagai perguruan tinggi yang fokus di bidang perkebunan, memiliki kewajiban untuk kemudian menginisiasi terbentuknya Institut Kopi Indonesia. Menurut dia, Institut Kopi Indonesia diharapkan menjadi rumah bersama untuk pengembangan kopi di Indonesia. 

“Melalui institut ini diharapkan mampu mengintegrasikan berbagai stakeholder kopi di Indonesia, seperti pusat-pusat penelitian, lembaga pendidikan, lembaga pelatihan, petani dan industri sehingga institut ini menjadi pusat pengetahuan dan teknologi di bidang kopi dan sebagai wadah berkumpulnya paka-pakarkopi di Indonesia,” ungkapnya. 

Nantinya, Institut Kopi Indonesia akan memiliki kegiatan perkuliahan dengan tujuan akhir setara Diploma 4. Kegiatan belajar pun dilakukan secara online di mana peminatan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah tempat mahasiswa berada. 

“Akan ada kurikulumnya kedepan dengan jenjang setara D4. Dari hulu ke hilir akan dibahas dan mahasiswa bisa memilih peminatan tersendiri mulai dari farm hingga industri yang ada di dilirnya,” sambung Purwadi. 

Sementara Hendarto Setyobudi, Direktur Kawi Mengani Kintamani Bali memaparkan dalam industri kopi banyak hal yang harus dipertimbagkam sekaligus diurai bersama-sama. Apabila tidak segera diurai dikhawatirkan industri kopi Nusantara akan sampai pada senjakala dan berakhir pada kematian. 

“Empat dari lima perusahaan trigger kopi dunia sudah menutup gudang di Indonesia dan ada pergeseran diantara mereka. Satu perusahaan itu saja hanya tinggal menyuplai untuk lokal yakni brand Kapal Api. Di sini terlihat kopi Indonesia masuk wilayah kuning ke merah karena eksportir besar meninggalkan kita, penyebabnya yakni produktivitas kita turun drastis dan kopi kita mahal. Ada perubahan tata niaga kopi dunia dan harus bisa dimanfaatkan,” ungkapnya. 

Namun begitu, Hendarto mengungkap ada peluang tersendiri yang dimiliki Indonesia di mana para petani harus mampu menciptakan produk berkualitas dan nantinya menjual sendiri produk kopinya tanpa melalui treader besar. “Kita punya peluang karena diberikan bentang alam luar biasa oleh Tuhan. Tinggal bagaimana kita bisa ciptakan produk berkualitas dan menjualnya sendiri, ini yang harus dimaksimalkan. Harapan besar sekaligus menarik untuk Institut Kopi Indonesia ini tentunya,” sambungnya lagi. (Fxh)