Kisah Inspiratif Editor : Ivan Aditya Jumat, 08 Maret 2019 / 13:30 WIB

Kisah Usaha Keramik Kaloka, Modal Rp 1 Juta hingga Kuasai Pasar Timur Tengah

YOGYA, KRJOGJA.com - Merintis sebuah usaha memang tak pernah mudah. Konsistensi, kerja keras, pantang menyerah dan kemauan membuka diri menjadi syarat mutlak dimiliki calon-calon pengusaha di era serba dinamis saat ini.

Hal tersebut dialami betul oleh Fransisca Puspitasari (42), founder usaha keramik asal Yogyakarta, ‘Kaloka Poettry’. Sejak 2016 lalu, Kika begitu ia akrab disapa, memulai usaha di bidang keramik tersebut.

Modal awalnya, diakui hanya sebesar Rp 1 juta yang digunakannya untuk biaya bensin dan pengurusan Hak Cipta atas nama Kaloka. “Saya belum punya tungku, hanya terima order dan dilempar ke pengrajin di Bantul tapi sudah punya brand Kaloka itu yang saya patenkan. Itu saya mulai sekitar 1 tahun,” ungkapnya, Jumat (08/03/2019).

Setahun berjalan tepatnya tahun 2017, Kika merasa usahannya seolah jalan ditempat karena pesanan yang mulai datang namun kecepatan produksi tak bisa dimaksimalkan. Bermodal nekat, ia akhirnya memberanikan diri membeli tungku milik teman seniman keramik di Bandung untuk memulai produksinya sendiri.

“Tapi itu tidak mulus karena saya harus nyicil tungku dan belajar produksi sendiri. Tiga bulan saya tidak punya pendapatan karena tidak ada order masuk. Rasanya mau menyerah saat itu bahkan bertanya pada diri sendiri apakah benar ini jalan pekerjaan saya,” kenangnya.

Namun perlahan dengan mengandalkan sosial media Instagram, Kika percaya diri memperkenalkan produk yang dibuatnya di halaman belakang rumah sekaligus jadi studio di kawasan Bausasran Danurejan Kota Yogyakarta. “Banyak klien di 2016 yang membantu fotonya boleh saya pakai, saya posting di Instagram dan banyak yang respon, dari situ saya semakin percaya diri ternyata yang suka banyak,” sambungnya dengan nada antusias.

Beberapa influencer bergantian datang ke studionya tanpa dikomando, pun begitu beberapa pembeli dari Australia dan Dubai juga begitu saja datang menyaksikan langsung proses pembuatan gelas, piring, dan perkakas meja makan lainnya dari keramik. “Tiba-tiba juga di 2017 akhir saya dapat email dari Qatar mau pesan 2000 pieces. Ya bingung, takut tapi senang juga. Akhirnya saya amini dan produksi tiga bulan kemudian pada Februari 2018 saya kirim,” sambungnya lagi.

Dari kesuksesan pesanan perdana yang disebutnya mencapai angka Rp 100 juta, nama Kaloka Poettry semakin dikenal di kawasan Timur Tengah. Pesanan pun terus mengalir yang membuat Kaloka berkembang hingga memiliki 12 karyawan dan 10 pengrajin di kawasan Bantul.

“Mungkin karena murah juga kali, tapi tidak masalah produk Kaloka yang jelas jadi dikenal luas di Timur Tengah. Sampai sekarang order dari Timur Tengah terus datang ke Kaloka,” sambung ibu dua anak tersebut.

Meski begitu, Kaloka tetap memiliki kendala meski telah meraup keberhasilan selama hampir empat tahun berdiri. Mahalnya ongkos kirim dari Indonesia ke negara tujuan pembeli masih menjadi persoalan yang dirasakan.

“Kadang harga USD 300 tapi ongkirnya USD 1000, ya ada yang keberatan tapi ada yang tak masalah. Beda sekali dengan di Cina ongkir bisa sangat murah. Harapannya sih pemerintah aware terkait hal ini juga tentunya,” ungkapnya lagi.

Brand Kaloka sendiri diakui Kika tak melulu mencari untung semata. Setiap ada produk lama yang belum laku, Kika lantas melakukan sale di mana hasil penjualan disumbangkan ke berbagai yayasan dan panti asuhan.

“Kaloka tidak cuma cari untung saja, tapi bagaimana kita bermanfaat untuk alam semesta. Kami rutin berbagi ke yayasan seperti Alzeimer dan panti asuhan. Itu jadi candu yang positif untuk kami, membawa semangat baru,” tambah Kika.

Saat ini, Kika yang juga tengah merintis dua brand yakni Gembira Bag dan Srinata Homeliving sedang mengembangkan sebuah aplikasi digital. Aplikasi yang akan diperkenalkan dua bulan mendatang dibuat untuk memudahkan konsumen berbelanja di tiga produk Kaloka, Gembira dan Srinata. (Fxh)