Wisata Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 04 Maret 2019 / 10:54 WIB

Misteri Muasal Hang Tuah

MASIH ingat Hang Tuah? Laksamana gagah berani sebagai ikon pahlawan Melayu? Yang konon dengan keris Tamingsari yang diperoleh dari senopati Mataram berhasil menjadi panglima di kerajaan Melaka. 

Namun yang menarik, hingga kini masih menjadi misteri besar, dari manakah sebenarnya asal Hang Tuah dilahirkan. Nama Hang Tuah banyak digunakan sebagai nama Perguruan tinggi dan sejumlah sekolah di tanah air, bahkan digunakan nama kapal latih Indonesia. Karena semuanya berawal dari legenda, bahwa laksamana gagah perkasa tersebut dilahirkan di wilayah Goa, Sulawesi Selatan. Namun bukti yang lain, tokoh legendaris tersebut dilahirkan di wilayah Melaka, Malaysia.

“Banyak bukti kalau Hang Tuah lahir dan mengabdi di Melaka” kata Wan Mariati Sohak, manajer komunikasi Tourism, Chief Minister Departmen di Melaka. Ia mengatakan hal tersebut saat menerima  para wartawan Indonesia dan Malaysia yang tergabung dalam Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia Indonesia (Iswami), di Melaka belum lama ini.

Salah satunya, ada makam Hang Tuah di jalan Hang Jebat 120 Tanjung Kling Melaka, Malaysia. Di situ terdapat sebuah makam  yang dilengkapi dengan monumen dan relief yang menggambarkan sesosok manusia yang sedang mencabut keris dan bertuliskan “Tak kan Melayu Hilang Di Bumi”. 

Banyak wisatawan yang berkunjung ke makam Hang Tuah ini setiap tahunnya. Makam  tersebut sampai  sekarang terawat dengan baik. Banyak pengunjung  berfoto dengan objek  berlatarkan relief-relief jejak kisah kehidupan Hang Tuah.  Namun sumber lain  menyebutkan, Hang Tuah dimakamkan di Palembang dan memang ada makam yang disebut sebagai makam laksamana itu. Sedemikian penasarannya, sehingga Universitas Putra Malaysia pernah melakukan penelitian . 

Ditemukan jejak terakhir Hang Tuah berada di Temasik Singapura pada tahun 1511 yang saat itu  berusia 80 tahun. Ada keluarga yang merasa keturunan ke 12 Hang Tuah, yang masih meninggalkan  sepasang gelang yang dahulu konon di pakai Hang Tuah, serta manuskirp tua  ditulis tangan.

Menara, salah satu ikon pariwisata melaka (Octo Lampito)

Terlepas dari anggapan tersebut, namun asal usul dan peninggalan Hang Tuah menjadi daya tarik Melaka. Wan Sohak mentargetkan dalam tahun 2019, berhasil mendatangkan 20 juta wisatawan. Tahun 2018 memasukkan 17 wisatawan. Paling  Melaka mengincar 20 Miliyar Ringgit Malaysia. Wisatawan dari Indonesia urutan atas jumlahnya.

Daya Tarik Melaka, telah membuahkan  Badan dunia UNESCO  menetapkan sebagai Kota Warisan Budaya Dunia atau Melaka World Heritage sejak 2008 lalu. Di titik nol kota tersebut, tampak bangunan bersejarah The Stadthuys. Bangunan  kokoh bercat nerah bata ini, dahulu adalah rumah kediaman gubernur Belanda saat  memerintah di Malaysia. Bangunan kuno inilah sekarang menjadi ikon Melaka karena banyak wisatawan yang berfoto di sana. Di Kawasan itu disebut sebagai zona merah, karena hampir seluruh bangunan warnanya sama merah bata.

Tak jauh dari lokasi itu, ada sungai yang dahulu sebagai jalur perdagangan. Sekarang, menjadi jalur wisata yang menarik, karena sungai dijaga bersih sehingga nyaman dilayari. Paket wisata menyusuri Melaka River Cruise, biasanya dilakukan malam hari. Karena kita bisa menikmati kafe dengan menu unik di sepanjang sungai tersebut. Sementara becak yang bentuknya unik warna warni, lalu lalang dengan memutar musik-musik melayu atau India dalam volume cukup kencang.

Untuk menikmati suasana di kawasan Red Square atau zona merah, wisatawan dianjurkan berjalan kaki di sepanjang pedestrian yang disediakan atau naik becak hias yang ditawarkan untuk turis. Di sepanjang pinggir sungai atau Melaka River terdapat kafe-kafe dengan aneka menu menarik. Kawasan ini ramai dkunjungi turis mulai sore hingga malam.

Sambil jalan kaki menikmati suasana sore, tak jauh dari sini ada bangunan berbentuk perahu kayu tingginya 34 meter, panjang 36 meter dengan lebar 8 meter. Bangunan untuk museum maritim menunjukkan bahwa peranan Melaka sebagai kota perdagangan di Asia, yang sangat padat. Disitulah sejarah kota Melaka  tempo doloe tergambar. Diorama kesibukan pelabuhan dibuat menarik perhatian. 

Tak jauh dari lokasi tersebut, ada Menara Tamingsari. Menara yang tingginya 110 meter, bisa dimasuki kapasitas 60 orang. Dari Menara inilah, bisa disaksikan wajah Melaka dari atas. Apalagi kalua malah hari, sungguh menarik.
 
Seperti disebut di atas, Tamingsari berasal dari nama keris sakti Hang Tuah yang konon didapat dari ksatria Mataram di Jawa. Dalam legenda itu, keris inilah yang kemudian dipakai dalam peperangan melawan sahabatnya Hang Jebat. Dalam legenda diceritakan, Hang Tuah sangat menyesali peperangan melawan Hang Jebat karena salah sangka.  Melaka juga didukung wisata kesehatan, makin membuat kota tersebut banyak didatangi wisatawan. (Ioc)