Kisah Inspiratif Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 01 Maret 2019 / 13:21 WIB

RIFKI ALI HAMIDI

6 Kali Gagal Usaha, Anak Muda Asal Sentolo Kini Raup Rp 100 Juta Sehari

YOGYA, KRJOGJA.com - Menjadi pengusaha sukses pasti diimpikan banyak orang karena melihat segala kelimpahan yang dimiliki. Namun, terkadang kita mengesampingkan perjuangan menapaki sukses yang terkadang terjal hingga membutuhkan mental kuat. 

Setidaknya liku hidup inilah yang dihadapi Rifki Ali Hamidi founder Busana Mandiri Corp Kulonprogo. Betapa tidak, sejak memulai usaha pada 2010 lalu, tercatat enam kali sudah kegagalan menghampiri dan barulah di usaha ketujuh, ia mampu mendapatkan omset harian hingga Rp 100 juta. 

Kisah Rifki dimulai pada 2010 saat ia menjual kain batik bekerjasama dengan empat penjahit bekas karyawan sang ibu. Namun, gelora muda yang ada dalam diri lantas merusak perhitungan bisnis yang kemudian membuatnya ambruk. 

“Saya hutang bank karena merasa cukup laku pada awalnya yang ternyata teman-teman saya beli karena kasihan bukan karena kualitas bagus. Saya punya hutang Rp 250 juta dan ternyata produk saya tidak laku-laku, saya down kala itu hingga akhirnya memutuskan kuliah lagi,” ungkapnya dalam perbincangan Kamis (28/2/2019). 

Namun begitu hasrat berbisnisnya kembali muncul saat beberapa hari setelah masuk kuliah. Tak lama Rifki pun memilih keluar dan memutuskan berjualan produk door to door hingga tak pernah pulang ke rumahnya. 

“Seminggu jualan batik itu saya bisa dapat Rp 2 juta, saya fight di luar tidak pernah pulang. Saat itu tahun 2014, dan kebetulan bertemu teman saya yang jualan online ternyata dia bisa dapat Rp 150 juta dalam sebulan. Saya terpacu lagi,” sambung dia. 

Enam bulan Rifki lantas belajar berjualan online ke Muntilan, tempat temannya tersebut bermukim. Tak sia-sia, pada Januari 2015 Rifki akhirnya bisa beriklan melalui media sosial Facebook dan memasarkan barang-barang dagangannya lebih luas. 

Namun begitu, kegagalan kembali sempat menghampiri saat ternyata berjualan online juga memiliki pasang surut padahal di sisi lain ia telah mempekerjakan tiga karyawan tukang potong, jahit dan pasang kancing. “Kalau banyak pekerjaan maka sibuk tapi kalau sepi sekali ya tidak ada order masuk sama sekali. Ini yang sempat buat bingung lagi,” sambungnya mengingat. 

Setahun berselang pada 2016, bisnisnya mulai berkembang karena Rifki dengan brand batik Kertabumi terus berinovasi dan memaksimalkan pemasaran melalui jejaring online. Tahun itu, usahanya pertama kali mencatat omset Rp 100 juta sebulan yang membuatnya mampu melunasi hutang dan mempekerjakan 30 karyawan. 

“Usaha ternyata terus berkembang dan 2017 kami bisa kelola pabrik sendiri, karyawan lebih dari 50. Kami kerepotan, coba lakukan digitalisasi portal informasi pesanan dan September 2018 kami produksi tanpa cacat, sekarang kami punya 120 karyawan dan kemarin mencatat omset Rp 100 juta dalam sehari, itu rekor,” ungkapnya tersenyum. 

Di kawasan Sentolo Kulonprogo saat ini Busana Mandiri Corp termasuk di dalamnya Batik Kertabumi memiliki pabrik produksi dari hulu ke hilir. Busana batik karya Kertabumi pun dikenakan banyak orang baik di dalam maupun luar negeri. (Fxh)