Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Kamis, 28 Februari 2019 / 15:09 WIB

Polisi Gulung Penyimpan Upal di Makam Haji

SUKOHARJO, KRJOGJA.com - S (45) warga Pucangan, Kartasura ditangkap Polres Sukoharjo karena menyimpan uang palsu (upal) sebanyak 60 lembar pecahan Rp 100 ribu atau total sebesar Rp 6 juta. Polisi sekarang masih memburu satu  tersangka lainnya karena menjadi penyuplai upal. Kepastian upal milik S diketahui setelah pihak kepolisian berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) Surakarta.

Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi, Kamis (28/2) mengatakan, kronologis penangkapan terhadap tersangka S dilakukan Polres Sukoharjo pada 14 Februari sekitar pukul 15.00 WIB di Jalan Raya Pajang - Kartasura di Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura. 

Pada saat itu S melintas di jalan saat petugas melakukan razia terhadap pengendara kendaraan atau masyarakat yang melintas. Saat dilakukan pemeriksaan oleh anggota Reskrim Polres Sukoharjo mendapati S menyimpan upal. Atas temuan tersebut S diamankan untuk dilakukan pemeriksaan di Polres Sukoharjo.

Hasil pemeriksaan diketahui S memiliki atau menyimpan upal sebesar Rp 6 juta dari I. Kejadian berawal setelah S mempunyai piutang kepada I warga Jepara senilai Rp 50 juta. S kemudian menagih pada I Mei 2018 lalu dan diberikan uang sebesar Rp 6 juta. Namun setelah uang tersebut diterima dan akan disetor tunai melalui mesin ATM ternyata uang tersebut tidak bisa terkirim atau ditolak sistem.

Penasaran dengan kejadian tersebut S kemudian mengamati uang miliknya pemberian I. Ternyata uang sebesar Rp 6 juta tersebut palsu semua. S kemudian berusaha menemui I pada 24 Januari 2019 dan dijanjikan akan segera dikembalijan semua uangnya para 28 Februari 2019. Namun sebelum diterima S sudah ditangkap oleh polisi.

"S ini tahu kalau uang Rp 6 juta yang diberikan oleh I merupakan upal. S tahu setelah berusaha setor ke bank melalui ATM namun ditolak. Meski tahu uang miliknya upal tapi S tidak memberitahukan atau menyerahkan ke petugas sebelum akhirnya ditangkap Polres Sukoharjo," ujarnya.

Tersangka S dijerat Pasal 36 ayat 2 Undang Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 10 miliar. Dalam Undang Undang tersebut mengatur pelanggaran yang dilakukan S karena menyimpan secara fisik dengan cara apapun yang diketahuinya merupakan rupiah palsu. (Mam)