Kisah Inspiratif Editor : Danar Widiyanto Kamis, 28 Februari 2019 / 01:10 WIB

Dari Jual Jenang, Ibu Ngajinem Bisa Laksanakan Ibadah Umrah

PERJALANAN hidup seseorang memang sulit diterka. Hal itu pula yang terjadi pada Ibu Ngajinem, warga Dusun Papringan, Kelurahan Catur Tunggal, Kecamatan Depok Kabupaten Sleman. Berkat usahanya jual jenang keliling, ibu Ngajinem bisa pergi umrah.

Mengawali usahanya jual jenang sejak tahun 1990 hingga saat ini, ibu Ngajinem enggan untuk beristirahat dirumah. Karena menurutnya, berjualan adalah cara untuk tetap bertahan hidup tanpa melibatkan anaknya yang sudah sukses. 

"Saya masih sehat, masih pengen jalan-jalan pake uang sendiri," tutur ibu Ngajinem.

Mulanya berjualan, ibu Ngajinem harus menggendong daganganya seberat 1 kg berkeliling ke komplek Colombo, Karang Malang, Samirono, hingga Kuningan. Dua tahun setelahnya, ibu Ngajinem mulai menggunakan sepeda onthel tua miliknya hingga saat ini.

Selama dua tahun terakhir, Ibu Ngajinem memutuskan untuk memarkir daganganya di Jalan Demangan. Meskipun demikian, pelanggan ibu Ngajimen tidak pernah sepi bahkan semakin ramai dicari. 

"Berkat berkeliling dulu, jadi punya banyak pelanggan, ada juga yang dari godean jauh-jauh kesini pake ojek online," kata ibu Najinem, Rabu (27/02/19).

Berkat usaha dan kerja kerasnya, pada tahun 2017 ibu Najinem juga bisa pergi umroh dari hasil dagangannya selama bertahun-tahun. "Saya nabung buat beli sapi, terus sapinya dijual buat daftar pergi umroh, alhamdulilah kesampaian," kata wanita berjilbab tersebut.

Tidak hanya umroh, peralatan rumah tangga seperti mesin cuci, kulkas bahkan mobil bisa dibeli sendiri dengan jerih payahnya menjual jenang. 

Jenang yang dijual ibu Najinem ternyata sudah melegendaris di Yogya. Ada jenang sumsum, mutiara, candil, dan ketan hitam dengan harga Rp 5000 rupiah per porsi.

Dari pantauan KRJOGJA.com, sejak sore hari para pelanggan silih berganti berdatangan membeli jenang. "Baru mangkal juga udah ramai pembeli, waktu itu ada pelangan jauh-jauh dari bandara kesini cuma mau beli jenangnya ibu," kata ibu Suprih sahabat Ibu Ngajinem.

Meskipun demikian, Ibu Ngajinem tetap menggunaka sepeda onteh tua miliknya untuk berjualan karena menurutnya lebih nyaman menggunakan sepeda. Dalam sehari Ibu Ngajimem bisa meraih omset sekitar Rp 400 ribu rupiah.

Dibuat menggunakan gula jawa asli dan pembuatan jenang juga tanpa campur tangan orang lain membuat jenang ini sangat khas. "Enggak matep kalau enggak dimasak sendiri," katanya. Jenang ibu Ngajinem biasa mangkal di jalan Demangan baru, depan SD Kanisius dari pukul 16.00 wib hingga habis. (Evi Nur Afiah)