Gaya Hidup Agregasi    Rabu, 27 Februari 2019 / 07:54 WIB

Anak Positif Kanker Mulai marak, Gejala Awal Mimisan dan Gusi Berdarah

TANGERANG, KRJOGJA.com - Faktor penyebab kanker pada anak sulit untuk diprediksi. Namun banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengantisipasinya serta mendeteksi dini gejala-gejala kanker pada anak.

Terdata, 280 anak di Banten pernah mendapatkan perawatan kanker di RSUD Kabupaten Tangerang. Mereka berasal dari Pandeglang, Malimping dan Tangerang Raya.

Menurut Dokter Rini Purnamasari, kanker pada orang dewasa dapat dicegah. Sementara kanker pada anak akan sedikit lebih sulit dalam penanganan penyembuhannya.

"Kanker pada dewasa bisa dicegah karena mereka rata-rata kena gara-gara lifestyle. Tapi kalau pada anak susah, dari awal memang sudah punya mutasi. Apakah yang menjadi pemicu kita enggak bisa ngomong, enggak bisa tahu karena memang yang sudah ada penelitiannya paling karena zat kimia atau radiasi," ujar Rini saat menghadiri perayaan hari kanker di TangCity Mall, Tangerang, akhir pekan lalu.

Rini menyebutkan ada beberapa gejala kanker yang perlu diantisipasi orangtua di antaranya, pendarahan pada gusi, sering mimisan, trombosit turun dan muka selalu nampak pucat.

"Kita memang agak susah buat mendeteksi dini. Rata-rata paling anak-anak yang datang untuk dirawat perutnya udah gede, udah pucat banget. Kalau kanker leukimia, itu dia pucat ada benjolan berasal dari kelenjar getah bening atau ada pendarahan," jelasnya.

Dokter yang berasal dari RSUD Kabupaten Tangerang ini menyebutkan, untuk menghindari kanker salah satu caranya bisa dengan memperhatikan makanan yang dikonsumsi anak-anak.

"Kalau untuk anak, mungkin dikurangi makan-makanan yang mengandung pengawet perasa pewarna, jajanan di pinggir jalan. Itu paling enggak boleh buat anak kanker. Ditambah juga jangan makan makanan olahan, daging olahan itu musuhnya kanker ngga boleh, sosis naget, burger itu ngga boleh," tegas Rini.

Sementara itu, Ketua Yayasan Amaryllis Kirana Asep Supriadi menyebutkan, pembiayaan pengobatan kanker dapat dibiayai dengan BPJS Kesehatan. Tak hanya itu, anak-anak pengidap kanker juga dapat secara gratis mendapatkan perawatan dari rumah singgah untuk pengidap kanker.

"Biayanya gratis kalau untuk pengobatannya. Syaratnya sudah terdiagnosa sebagai pasien kanker. Nanti kalau untuk di rumah singgah ini, untuk bantuan perawatan paling kita cuma minta fotokopi KK sama KTP. Ini buat bukti ke dinas kesehatan setempat agar tau kalau ada warganya yang mengidap kanker, gitu aja," terangnya.

Dalam perayaan hari kanker di di TangCity Mall para badut yang berasal dari komunitas Aku Badut Indonesia (ABI) menghibur para anak pengidap kanker. Aksi sulap, akrobat, bernyanyi bersama badut, tak ayal membuat anak-anak yang hadir, larut dalam canda tawa. Tak jarang, ada sejumlah anak yang berani tampil ke panggung demi bernyanyi sambil menari bersama badut.

Dikatakan salah satu badut, Alfian Sadewa, komunitas ABI telah aktif dalam kegiatan sosial selama satu tahun belakangan ini. Dia mengaku seringkali tampil untuk menghibur anak-anak pengidap kanker.

"ABI sudah setahun berdiri kita tujuannya sosial, untuk menghibur anak penderita kanker, anak yatim, anak korban bencana alam terus juga kita ada sisipan bantuan buat pembangunan masjid juga," ujar Alfian kepada Okezone.

Dalam mengidentifikasikan keanggotaannya, tiap badut dipanggil dengan awalan kata Abi. Alfian sendiri akrab dipanggil dengan panggilan Abi Al. Dia mengatakan, sejauh ini sudah ada 17 badut yang tergabung dalam komunitasnya.

Alfian mengaku, dalam melakukan kegiatannya, komunitasnya kerap tak menerima bayaran. Hal itu diakuinya sebagai tujuan sosial yang dijadikan misi dalam pembentukan ABI.

"Kita sebagai penggerak penghibur di bidang sosial, jadi kita nggak ada pembayaran tersendiri. Kadang kalau kita ada di trauma healing, kita keluar dari kocek sendiri untuk kita sumbangin. Kita juga kadang main di Bundaran Senayan, pendapatan kita sebagian buat didonasikan," ungkapnya.

Menghibur anak-anak pengidap kanker dengan menjadi seorang badut, adalah cara mereka untuk berbagi, menebarkan senyum serta tawa lewat aksi-aksi badut yang mereka lakukan . "Kita mencoba berbagi dengan anak pejuang kanker yang sudah sakit parah. Berjuang untuk sembuh sampai harus dikemoterapi, kita berjuang membagikan kebahagiaan untuk mereka," tutur Alfian.


Tak hanyak untuk anak-anak pengidap kanker, mereka juga telah beraksi di sejumlah daerah di Indonesia yang sempat terkena bencana. Tawa canda yang mereka bagikan, telah sampai pula untuk menghibur anak-anak korban bencana di Lombok, Palu dan Banten.

Lewat kiprah mereka sebagai badut, lanjut Alfian, ada harapan yang terselip pada setiap anak-anak yang mereka hibur. Lewat aksinya sebagai badut, ada perasaan haru bercampur bahagia tersendiri, ketika mereka mendapati anak-anak dapat tertawa dan tersenyum atas penampilan yang mereka bawakan.

"Kita melihat anak-anak tersenyum kita bahagia, lihat mereka tertawa kita ada perasaan senang tersendiri. Kalau kita bisa membahagiakan orang lain juga kan, Insya Allah jadi pahala buat kita," pungkasnya. (*)