Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Minggu, 24 Februari 2019 / 10:39 WIB

Sejak 2015, Pemerintah Revitalisasi 5000 Pasar

JAKARTA, KRJOGJA.com - Pemerintah terus merevitalisasi pasar rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan pedagang. Ini dilakukan melalui peningkatan omzet, memudahkan akses transaksi jual beli dengan nyaman, serta mendukung kelancaran logistik dan distribusi.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Jakarta mengatakan selama empat tahun pemerintah telah merevitalisasi 5.000 pasar. Dengan rincian tahun 2015 1.023 unit, 2016 793 unit, 2017 851 unit, 2018 1545 unit dan 2019 1037 unit. "Untuk revitalisasi nonfisik yaitu revitalisasi manajemen mengelola penempatan pedagang, pembiayaan dan permodalan dan SOP pelayanan pasar," papar Enggar.
Enggar melanjutkan, untuk revitalisasi ekonomi meliputi meningkatkan pendapatan pedagang dengan mengakomodir kegiatan ekonomi formal dan informal.
"Lalu revitalisasi sosial menciptakan lingkungan pasar yang menarik berdampak positif dan dapat meningkatkan dinamika serta kehidupan sosial masyarakat," ujarnya.
Pemerintah, lanjut Enggar, juga memberikan pelatihan pengelola pasar rakyat, sekolah pasar, aktivasi pasar, serta memberikan sertifikat SNI pasar rakyat.

Sementara itu, politisi NasDem Eva Yuliana mengatakan dengan revitalisasi pasar rakyat ada beberapa keuntungan yang didapat. Pertama, bisa memberikan pelayanan kepada konsumen yang lebih layak dan nyaman dalam berbelanja. Penjual juga lebih nyaman dalam menjual dagangannya.
"Pasar Apik Insyaallah Rezekine Becik (Pasar Bagus Insyaallah Rezekinya bagus)," kata Eva.

Menurut Caleg NasDem Dapil V Jawa Tengah (Solo, Sukoharjo, Boyolali, Klaten) itu menambahkan, revitaliasi juga mampu meningkatkan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, Eva berjanji akan terus mendorong dan meningkatkan jumlah revitalisasi pasar di Indonesia, jika konstituen mendukungnya sebagai anggota Dewan.

"Jadi tidak hanya fisiknya, tetapi bagaimana mengajarkan pengetahuan pengelolaan pasar. Setelah manajemen direvitalisasi maka yang diharapkan adalah memperpendek mata rantai antara produsen dan penjual," katanya.
Sehingga,  ketika mata rantai diperpendek, maka diharapkan ketika harga sembako lebih stabil dan terjangkau bagi masyarakat.


Sementara itu Direktur Utama Sogo Indonesia yang juga Penasihat Aprindo Handaka Santosa berpendapat, revitalisasi ribuan Pasar Rakyat tentu akan memberikan hasil yang positif dalam perdagangan di kalangan pedagang pasar.

"Karena sarananya yang menjadi lebih nyaman bagi pengunjung dan juga penataan yang pencapaian nya lebih leluasa," ujarnya.

Dikatakan, penataan pasar rakyat sama sekali tidak menimbulkan pengaruh negatif kepada ritel modern, karena masing-masing mempunyai segmen market yang berbeda.Namun demikian, kata Handaka, perlu adanya perhatian dari pemerintah untuk hal-hal yang lebih mendasar lagi.

"Perlu adanya jembatan dari PD Pasar (pengelola pasar) setempat untuk membantu sehingga pedagang dapat memperoleh jalur pasokan yang rutin, murah dan mudah, sehingga dalam berdagang mereka tidak kuatir adanya fluktuasi harga jual," katanya.

Ritel modern, kata Handaka, memiliki harganya selalu stabil karena sudah ada pemasok yang dikontrak dengan harga yang mengikat dalam setahun. (Lmg)