Jateng Editor : Ivan Aditya Sabtu, 23 Februari 2019 / 01:49 WIB

Kenduri Durian, Perlawanan Warga Wadas Tolak Tambang

PURWOREJO, KRJOGJA.com - Masyarakat Desa Wadas Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo menggelar Kenduri Durian, Jumat (22/02/2019). Acara yang dipusatkan di halaman Masjid Nurul Huda itu merupakan bentuk perlawanan warga atas rencana penambangan batu di bukit Wadas.

Warga mempersembahkan 450 durian terbaik yang dihasilkan dari hutan di desa itu. "Kami buat tiga gunungan buah durian, rencananya akan dipersembahkan untuk warga, terutama luar Desa Wadas," ungkap tokoh Gerakan Masyarakat Peduli Bumi Wadas (Gempadewa) Marsono, kepada KRJOGJA.com.

Warga juga menggelar bazar mini yang menjual aneka hasil bumi, kerajinan dan makanan produk setempat. Keuntungan penjualan dikumpulkan untuk membiayai perjuangan Gempadewa.

Selain itu, Gempadewa juga menggelar pentas seni. "Malam harinya diselenggarakan mujahadah dan pengajian menghadirkan Gus Fayyadl dari Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FKNSDA)," tuturnya.

Menurutnya, aksi tersebut untuk membuktikan bahwa tanah Wadas itu subur. Wadas, lanjutnya, menghasilkan durian, kemukus, manggis, vanili dan rempah lainnya. Warga juga menanam kayu keras untuk tabungan saat terdesak kebutuhan.

Akhir-akhir ini, katanya, berembus kabar jika tanah Desa Wadas itu gersang dan tidak produktif. "Maka kami ingin buktikan kalau anggapan tersebut tidak benar. Kami tunjukan bahwa ada hasil pertanian yang bisa dinikmati dan menjadi andalan perekonomian masyarakat," ucapnya.

Masyarakat, lanjutnya, ingin pemerintah tahu bahwa akan ada banyak dampak yang dirasakan penduduk Wadas apabila tambang tetap dibuka di desa itu. "Kami mendukung rencana pembangunan Bendungan Bener, namun jangan sampai batunya diambil dari Wadas. Silakan cari batu di tempat lain, kami sampai kapanpun tetap tolak tambang batu," tegasnya.

Selain menghilangkan mata pencaharian dan merusak sumber air, katanya, tambang juga merusak sistem budaya masyarakat Wadas. "Modelnya pembebasan, tanah dibeli pemerintah dan hak milik kami hilang. Lalu apa yang bisa diwariskan untuk anak cucu kami kelak," tanya Marsono.

Upaya penolakan tambang dilakukan sejak wacana penetapan Desa Wadas sebagai kuari pada tahun 2016. Warga menggelar demonstrasi penolakan, menghadap Gubernur Jawa Tengah, hingga ke kantor Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) Yogyakarta.

Namun, katanya, pemerintah belum bisa memberi jawaban jelas terkait penolakan warga tersebut. "Surat penolakan yang tempo hari diserahkan, belum dijawab oleh BBWSO, kami juga menyayangkan sikap pemkab yang sepertinya apatis. Tidak memberi solusi membela kepentingan warga," tandasnya. (Jas)