Hiburan Editor : Danar Widiyanto Jumat, 22 Februari 2019 / 22:10 WIB

Terasering, Alurmaju, dan Ragipta Utama Berbagi di 16.00

TIAP musisi punya pendekatan dan proses masing-masing dalam membuat musik. Tidak ada yang sama karena kontemplasi masing-masing orang berbeda, baik ketika membuat aransemen atau lirik. Karakter tiap musisi dalam membuat karya itu dikupas habis dalam "16.00", di Dasmu Garage beberapa waktu lalu. Bersama pendengar dan pegiat musik, Terasering, Alurmaju, dan Ragipta Utama berbagi kisah tentang proses pengkaryaan masing-masing melalui diskusi hangat. Selain diskusi mereka juga diberi tantangan membawakan karya tanpa pengeras suara. 

"Ini dikusi sangat intim, berbagi cerita tentang proses kreatif, kritik karya, dan saling tukar kebiasaan masing-masing. Teman-teman musisi ditantang untuk memainkan musik tanpa pengeras suara jadi lebih natural dan semuanya menyimak," kata Rarya, penggagas "16.00" saat ngobrol santai usai acara. 

Di gelaran pertama "16.00" kemarin Terasering, Alurmaju, dan Raditya Gipta mendapat respon hangat dari pendengar musik yang datang. Berbagai pertanyaan datang, terutama untuk karakteristik dan pendekatan musik masing-masing. Terasering membuka "16.00" dengan "Air Mata Juli", musikalisasi puisi karya Nana Ernawati "Kau Telah Berubah Menjadi Abadi", ditutup "Rangkuman Perjalanan". Sedangkan Alur Maju membawakan "Tentang Pulang", "Di Samping Bangku Taman", dan "Melangkah". Ragipta Utama memperdengarkan nomor "Hujan Malam Ini", "Melukis Cakrawala", dan "Ketika Aku Mengenalmu".

Banyak apresiasi saat Terasering membawakan "Air Mata Juli". Pendengar merasai betul emosi dalam lagu yang bicara kehilangan dari cerita nyata teman mereka apalagi lirik mereka tak menggunakan metafor yang rumit dan lebih kuat di repetisi. Secara musik, masuknya Gilang membuat musik mereka lebih tebal dan kaya lalu mudah untuk membangkitkan sisi melankolis pendengar ketika mendengar lirik repetitif atau melodi biola.

"Sebenarnya pakem yang begini bisa saja berubah. Soalnya ide bergerak terus, tidak tetap menggunakan formulasi yang sama. Masuknya Gilang juga otomatis mengubah aransemen yang mulanya saya dan Ringga siapkan," kata Rarya menjawab pertanyaan pendengar musik tentang proses kreatif mereka.

Alurmaju adalah proyek Faiz Laditya yang jauh lebih tua dari Answersheet, Archieblues, atau Saturday Ice Cream, band yang dirawatnya selama beberapa tahun terakhir. Karyanya banyak dipengaruhi musik pop tahun 70-an dan 80-an. "Kalau Alurmaju sebenarnya inilah perkenalan saya dengan musik, lebih awal dibanding band-band yang saya gawangi. Ini pembuktian saya juga bahwa saya bisa hidup dari musik,"sambung Faiz.

Beda lagi dengan Ragipta Utama. Komposer yang merupakan gitaris band Jazz Ndugal, Jatiraga ini bicara banyak bagaimana cara ia mampu memindahkan emosi ke instrumen gitar. "Hujan Malam Ini" memuat perenungan kisah panjang minor Gipta sementara "Ketika Aku Mengenalmu" bicara keromantisan Gipta untuk pasangannya. "Ini adalah satu-satunya lagu untuk perempuan yang saya bikin dan jadi," kata Gipta.(Des)