Ragam Editor : Agus Sigit Jumat, 22 Februari 2019 / 15:46 WIB

Serem! Patung Singa di Bong Cina Itu Hidup

TIDAK sengaja Lik Garu (bukan nama sebenarnya) menemukan sebuah majalah lawas. Pada halaman tengah terdapat sebuah artikel tentang “Upacara Kematian Pada Keluarga Tionghoa”. Dibeberkan dalam tulisan tersebut, orang Tionghoa jika meninggal, sebagian harta miliknya seperti perhiasan emas, akan diikut sertakan. Dimasukkan dalam peti mati.

Artikel yang sangat menarik itu dia baca berulang- ulang. Dasar lagi ketleyek butuh, membaca artikel tersebut timbul niat jahat Lik Garu. “Kalau hanya menggali kubur, aku masih kuat. Siapa tahu barang-barang berharga tersebut masih ada di dalamnya,” begitu pikir Lik Garu.

Dia ingat sekali, Mamah Tik Gwan (nama samaran), tetangganya yang meninggal dua tahun lalu. Kala itu petugas yang merawat jenasahnya memasukkan beberapa gelang dan kalung emas ke dalam peti matinya.

Tekadnya sudah bulat, Lik Garu ingin menguasai barang berharga yang bukan miliknya itu. Caranya, nggangsir kuburan Mamah Tik Gwan. Suatu siang Lik Garu mengunjungi Makam tetangganya tersebut yang berada di tengah bong Cina yang luas. Bukan akan berjiarah, namun akan mempelajari lokasi dan situasinya.

Terdapat tiga nisan. Di sisi kanan adalah nisan suami Mamah Tik Gwan. Dan yang sebelah bawah adalah nisan anaknya. Tiga nisan itu dikelilingi tembok setinggi dua meter. Di tengah terdapat gapura dengan pintu besi kokoh setinggi satu setengah meter. Di kanan dan kiri pintu besi terdapat patung singa posisi duduk terbuat dari marmer, setinggi dada orang dewasa. Selesai survei Lik Garu bergegas pulang.

Malam harinya dengan membawa pacul, linggis, dan sekop, Lik Garu berangkat menuju Makam Mamah Tik Gwan. Aneh. Begitu sampai di lokasi yang dituju, timbul keraguan dalam hatinya. Maju, mundur, maju, mundur! “Ah, kenapa harus mundur? Kan rejeki sudah di depan hidung!” Lik Garu membesarkan hatinya. Lalu kakinya melangkah menuju gerbang.

“Hah…?!”. Jantungnya berdenyut keras. Dia melihat patung singa posisi duduk yang berada di kedua sisi pintu besi, sepertinya bergerak-gerak dan… berdiri. Kedua kaki depannya thakur-thakur tanah. Tidak ubahnya seperti singa sedang marah. Kedua matanya mencorong, memancarkan sinar kemerahan.

Lik Garu ngoplok. Berlari tunggang langgang. Pacul, linggis, dan sekop bawaannya dia tinggalkan begitu saja. (FX Subroto/Jbo)