DIY Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 22 Februari 2019 / 12:07 WIB

Suplai Magma Meningkat, Merapi Masuki Fase Awan Panas

YOGYA, KRJOGJA.com - Aktivitas Gunung Merapi memasuki fase pembentukan guguran lava dan awan panas guguran. Fase ini dimulai sejak 29 Januari ditandai terjadinya serangkaian awan panas guguran hingga saat ini. 

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Dr Hanik Humaida mengatakan, luncuran awan panas guguran pertama terjadi 29 Januari sebanyak 3 kali dengan jarak luncur maksimum 1.400 m. Kemudian pada 7 Februari terjadi 1 kali dengan jarak luncur 2.000 m dan terjadi lagi awan panas guguran pada 11 Februari sebanyak 1 kali dengan jarak luncur 400 m. Awan panas guguran paling banyak terjadi pada 18 Februari sebanyak 7 kali dengan jarak luncur maksimum 1.000 m.

“Jarak luncur guguran lava dan awan panas guguran saat ini maksimum 2.000 m dan masih berpotensi terjadi dengan jarak luncur kurang dari 3.000 m. Dengan demikian belum mengancam keselamatan penduduk di pemukiman yang berjarak paling dekat 4,5 km dari puncak Merapi. Apabila terjadi atau berpotensi terjadi awan panas dengan jarak luncur melebihi 3.000 m maka rekomendasi tingkat aktivitas akan dievaluasi,” ujar Hanik kepada wartawan di Kantor BPPTKG,
Jalan Cendana Yogyakarta, Kamis (21/2).

Dari aktivitas kegempaan sebulan terakhir, tercatat terjadi gempa VB 14 kali, MP 39 kali, LF 34 kali, DG 81
kali dan RF 1.216 kali. Menurut Hanik, secara keseluruhan aktivitas kegempaan Gunung Merapi mengalami peningkatan dibanding dengan periode sebelumnya "Hal ini menandakan, suplai magma ke permukaan masih berlangsung dan cenderung meningkat," paparnya.

Kemudian terkait kondisi kubah lava, kata Hanik, masih dalam kondisi stabil. Volume kubah lava relatif sama dengan perhitungan terakhir pada 22 Januari 2019 yaitu sebesar 461.000 m3. Volume kubah yang relatif tetap ini disebabkan material ekstrusi lava sebagian besar langsung meluncur membentuk guguran lava atau awan panas guguran.

Sehubungan dengan perkembangan aktivitas Gunung Merapi tersebut, BPPTKG merekomendasikan masyarakat khususnya yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa serta selalu mengikuti informasi aktivitas Merapi. Masyarakat dan pemerintah daerah dimohon mempersiapkan prosedur penanganan kondisi darurat terhadap aktivitas masyarakat/wisatawan di alur Kali Gendol dan sekitarnya. Masyarakat diimbau untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dan mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar
Gunung Merapi. (Dev)