Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 22 Februari 2019 / 11:08 WIB

Tafsir Agama Harus Sasar Milenial

JAKARTA, KRJOGJA.com - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan tafsir agama harus turut menyasar kalangan milenial sehingga kalangan tersebut turut tersentuh nilai-nilai keagamaan.
   
"Tafsir apa yang cocok untuk semua ini, karakter beragama milenial berbeda dengan generasi sebelumnya," kata Lukman di sela "Media Briefing Festival #MeyakiniMenghargai" di Jakarta, Rabu.(20/2 2019)
   
Lukman mengapresiasi adanya upaya-upaya menelurkan tafsir agama yang tepat untuk kalangan muda. Angkatan milenial memerlukan materi-materi keagamaan yang moderat.
   
Secara umum, kata dia, materi-materi moderasi beragama sangat diperlukan oleh masyarakat luas.
   
"Moderasi beragama menjadi kebutuhan kita semua. Sehingga program mengacu pada titik tolak dan mewujudkan moderasi beragama dengan mengedepankan sikap di tengah-tengah, adil dan tidak ekstrem dalam pengamalan," kata dia.
   
Indonesia di masa depan, kata dia, tidak bisa dipisahkan dari anak muda dan agama. Terlebih Indonesia akan segera mendapatkan bonus demografi dalam kurun 2030 hingga 2045.
   
"Kita perlu menyasar anak muda secara tepat untuk masa depan. Pada 2045, Indonesia akan dapat bonus demografi 70 persen," kata dia.
   
Menag mengatakan anak muda harus didorong agar tetap memiliki nilai-nilai keagamaan. Dengan begitu, berbagai upaya kreatif harus dilakukan agar nilai keagamaan tetap melekat pada diri mereka.
   
Mengamalkan agama, kata dia, sangat penting karena pengamalannya adalah cara menjaga ke-Indonesiaan. Menjaga negara juga menjadi pengamalan agama yang dipeluk.
   
"Bisa mengarah pencegahan intoleransi, kekerasan dan menjurus ekstremisme," katanya.
   
Sementara itu, Team Leader Convey PPIM UIN Jakarta Jamhari Makruf mengatakan generasi muda saat ini mudah dimasuki paham-paham ekstrem seiring terpaan informasi yang mengarah pada ekstremisme dan mengajak pada kekerasan.
   
"Misalnya banyak yang direkrut ke ISIS, berdasar riset kami," katanya.
   
Guna membendung itu, kata dia, perlu optimalisasi lembaga pendidikan dan keagamaan. Dua lembaga itu jika mampu mempromosikan nilai keagamaan yang moderat dan damai maka infiltrasi paham-paham kekerasan tidak tumbuh subur. (Ati)