Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Kamis, 21 Februari 2019 / 13:05 WIB

Picu Berbagai Penyakit, Tinggi Angka Obesitas Indonesia

SEMARANG, KRJOGJA.com -  Saat ini kegemukan atau obesitas banyak terjadi di masyarakat negara berkembang, termasuk Indonesia. Angka obesitas meningkat dua kali lipat dari tahun 1980 dan saat ini hampir 1/3 penduduk dunia tergolong overweight dan obesitas. Padahal obesitas bisa menjadi pintu gerbang munculnya berbagai penyakit berbahaya.

“Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) RI tahun 2018 menunjukkan angka overweight dan obesitas meningkat dari 2007 sampai 2018. Angka overweight usia dewasa (lebih dari 18 tahun) tahun 2007 sebesar 8,6% dan tahun 2018 mencapai 13,6%. Sinergis dengan angka overweight, angka obesitas menduduki 10,5%  di tahun 2007 dan 21,8%  di tahun 2018. Padahal angka kegemukan menjadi beban negara dari sisi ekonomi karena faktor ini bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti jantung, stroke, kanker, dan gagal ginjal. Obesitas juga faktor dominan timbulnya penyakit tidak menular seperti gula, jantung, kanker, stroke dan dislipidemia” ujar dosen Prodi Ilmu Gizi Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang (Fikkes Unimus) Luthfia Dewi SGz MGz.

Menurut Luthfia Dewi, meski sudah banyak penelitian dan metode penurunan obesitas dilakukan para ahli seperti berbagai macam diet menggunakan bahan alami (mengembangkan miklofora usus)  maupun sintetik (menurunkan nafsu makan) dan manajemen berat badan lainnya termasuk cara modern dengan aplikasi di smartphone pengatur pola makan. Namun angka obesitas dari tahun ke tahun tetap meningkat.  

“Pemerintah cukup gencar sosialisasi akan bahayanya obesitas sebagai pemicu berbagai penyakit sehingga masyarakat sebetulnya paham akan bahaya ini. Tetapi tampaknya penyuluhan hidup sehat kalah dari banjirnya sistem makanan terindustrialisasi di pasaran. Mudah dan murahnya akses makanan tinggi gula, garam, lemak dan bahan tambahan makanan menjadi “tersangka” peningkatan angka obesitas mengubah kebiasaan makanan masyarakat dengan peningkatan “snacking” (ngemil-Red), peningkatan makan di resto, dan penurunan waktu untuk menyiapkan makanan di rumah” ujar Luthfia.

Keberadaan gadget, tandas Luthfia, juga menyumbang meningkatnya angka obesitas di Indonesia karena menurunnya aktivitas fisik. Medsos menyita waktu masyarakat sehingga tidak ada waktu melakukan aktivitas fisik atau olah raga. Sehingga masyarakat harus kembali sadar akan perlunya menurunkan obesitas lewat berbagai cara, termasuk peningkatan aktivitas fisik. (sgi)