DIY Editor : Danar Widiyanto Rabu, 20 Februari 2019 / 09:50 WIB

DIALOG KEBANGSAAN SERI V DI STASIUN TUGU

Pemilu Seharusnya Membuat Gembira

YOGYA, KRJOGJA.com - Politik praktis menimbulkan rongrongan secara pelan-pelan tetapi nyata terhadap ikatan berbangsa dan bernegara. Semangat nasionalisme dan patriotisme harus dijaga agar persatuan bangsa tidak tergerus oleh Pemilu yang sarat kepentingan jangka pendek.

Hal itu dikatakan pelopor Gerakan Suluh Kebangsaan Prof Dr Mohammad Mahfud MD SH SU, dalam Dialog Kebangsaan Seri V dengan tema 'Mengokohkan Kebangsaan: Merawat Patriotisme, Progresivitas, dan Kemajuan Bangsa', di Ruang Tunggu Selatan Stasiun Tugu Yogyakarta, Selasa (19/2/2019) malam.

"Cuma karena Pemilu orang saling mengkafirkan, saling tuding. Kenapa kita harus bertengkar dan mengorbankan bangsa ini?" kata Mahfud yang juga pakar hukum tata negara.

Mahfud menyatakan, seharusnya seluruh elemen bangsa memandang Pemilu sebagai pesta demokrasi, semua gembira menyambutnya. "Tidak ada pesta yang membuat sedih, semua gembira, bebas memilih menu tersaji yang disukainya. Setelah selesai lalu berpelukan dan berpisah, berharap bertemu lagi di pesta berikutnya," tandasnya.

Dialog Kebangsaan Seri V ini bagian dari rangkaian kegiatan Jelajah Kebangsaan yang diselenggarakan PT Kereta Api Indonesia (Persero) bekerja sama dengan Gerakan Suluh Kebangsaan.

Dialog tadi malam juga menghadirkan pembicara Sekjen Gerakan Suluh Kebangsaan Alissa Wahid, mantan Katib Aam PBNU KH Dr A Malik Madani MA, rohaniwan Romo Benny Susetyo Pr, budayawan Charis Zubair, dan GKR Mangkubumi. Dialog diomoderatori Dr Siti Ruhaini Dzuhayatin MA. 

Alissa Wahid mengatakan, kemajuan di era teknologi informasi memunculkan tantangan terhadap sentimen kebangsaan. Gawai dibanjiri konten yang bertentangan dengan akar keindonesiaan, misalnya ideologi transnasionalisme yang menguat di Indonesia.(Bro)