Gaya Hidup Editor : Tomi sudjatmiko Rabu, 20 Februari 2019 / 07:57 WIB

YouTube Picu Peningkatan Pengikut Teori Bumi Datar?

BUMI datar sempat mengemuka dan jumlah orang yang mempercayainya dikabarkan meningkat. Hal tersebut tidak terlepas dari peran YouTube, menurut sebuah penelitian.

Dilansir Cnet, Asheley Landrum merupakan asisten profesor komunikasi sains di Texas Tech University. Ia mempelajari bagaimana nilai-nilai budaya mempengaruhi pemahaman manusia tentang sains.


Baru-baru ini dia melihat munculnya teori Bumi datar. Dikatakan bahwa lebih banyak orang percaya Bumi datar ketimbang sebelumnya.

Pencarian Google untuk "flat earth" telah berkembang secara masif selama lima tahun terakhir dan konvensi Bumi datar mulai bermunculan di seluruh dunia. Landrum mempelajari mengenai hal ini.

Landrum mewawancarai 30 orang yang menghadiri satu konvensi Bumi datar dan mendapati bahwa semua kecuali satu menjadi pengikut teori Bumi datar setelah menonton video di YouTube.

Dia mempresentasikan penelitiannya di sebuah acara yang dijalankan oleh American Association for the Advancement of Science.

Sementara Landrum tidak secara eksplisit menyalahkan YouTube atas kenaikan jumlah orang percaya Bumi yang datar, ia percaya bahwa Google bisa berbuat lebih banyak untuk menghentikan penyebaran gagasan yang salah secara ilmiah.

"Ada banyak informasi bermanfaat di YouTube tetapi juga banyak informasi yang salah. Algoritma mereka membuatnya mudah berakhir di 'lubang kelinci', dengan menyajikan informasi kepada orang-orang yang akan lebih rentan terhadapnya," katanya, seperti dilansir The Guardian.

Google telah mengakui masih ada yang bisa dilakukan untuk memerangi penyebaran informasi palsu di YouTube.

"Kami akan mulai mengurangi rekomendasi konten batas dan konten yang dapat memberi informasi yang salah kepada pengguna dengan cara yang berbahaya seperti video yang mempromosikan obat ajaib palsu untuk penyakit serius, mengklaim Bumi datar, atau membuat klaim palsu terang-terangan tentang peristiwa bersejarah seperti 9/11," kata tim YouTube.

Tim YouTube mengakui ini akan menjadi "perubahan bertahap". (*)