Jateng Editor : Agus Sigit Selasa, 19 Februari 2019 / 11:25 WIB

Petani Didorong Kembangkan Penangkal Hama Alami

SUKOHARJO, KRJOGJA.com - Petani diminta untuk mengembangkan penangkal atau pembasmi hama secara alami baik berupa tanaman maupun hewan predator. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari menghidupkan kembali ekosistem alam dan mengurangi biaya pemberantasan. Seperti pengembangan bunga refugia dan burung hantu. 

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti Selasa (19/2) mengatakan, pengembangan pertanian alami atau kembali ke alam sedang gencar dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo. Seperti yang sudah dilakukan yakni dengan mengurangi konsumsi pupuk kimia dan menggunakan organik. Selain itu juga menerapkan kembali konsep minapadi atau pertanian dan perikanan. Dengan cara tersebut maka petani dapat menikmati hasil panen padi dan ikan. 

Dalam pelaksanaan penerapan pertanian tersebut petani juga minta melakukan pemberantasan hama secara alami. Artinya tidak harus menggunakan obat atau bahan kimia melainkan kembali menggunakan cara alam. 

Semisal dalam penanganan serangan hama tikus seperti sekarang ini maka petani bisa menggunakan cara alami dengan menggunakan burung hantu. Hewan predator tersebut sangat mudah ditemui hampir disemua wilayah di Sukoharjo. Keberadaanya sangat penting untuk membantu petani memusnahkan tikus. 

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo kemudian memberikan pendampingan kepada kelompok tani dan petani secara langsung untuk memanfaatkan burung hantu. Caranya dengan membuat rumah burung hantu (rubuhan) sebagai tempat burung hantu bersarang dan berkembangbiak. 

Petugas juga memberikan pendampiangan berkaitan dengan pengembangan burung hantu sebagai predator alami bagi petani dalam memberantas hama tikus. Keberadaan burung hantu selain dikembangkanbiakan juga dilarang untuk dimusnahkan karena merupakan hewan yang dilindungi oleh undang – undang. 

“Hampir disemua wilayah pertanian di Sukoharjo sudah ada rubuhan. Kalau ada itu artinya petani sudah sadar dan mengembangkan cara pemusnahan hama tikus secara alami memanfaatkan keberadaan burung hantu. Konsep itu yang kami dorong agar kembali ke alam,” ujarnya. 

Meski sudah berjalan namun Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo terus melakukan pemantauan dan pendampingan. Salah satunya berkaitan dengan pemanfaatan burung hantu sebagai predator alami. 

“Kesulitan dialami karena masih ada beberapa oknum di wilayah tertentu yang iseng menembaki burung hantu. Pengawasan itu cukup sulit mengingat luasnya wilayah. Jadi perlu melibatkan masyarakat dan termasuk aparat penegak hukum karena memang burung hantu merupakan hewan dilindungi,” lanjutnya. 

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo juga mendorong petani agar mengembangkan cara pencegahan serangan hama lainnya secara alami dengan menanam tanaman refugia. Pola seperti ini sudah dilaksanakan oleh beberapa kelompok tani di Kecamatan Tawangsari, Weru, Bendosari, Polokarto dan Mojolaban. Petani sadar keberadaan tanaman refugia tidak hanya memperindah areal persawahan namun juga memiliki kemanfaatan menangkal hama. (Mam)