DIY Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 18 Februari 2019 / 11:50 WIB

Berita Populer Sepekan : Kost Angker di Gejayan, Arwah Mahasiswi Cantik Gentayangan Sampai Ratusan Santri dan Kiai Geruduk Rumdin Bupati

BERAGAM berita telah disajikan dan dinikmati para pembaca setia KRJOGJA.com. Namun, dalam sepekan ini ada lima berita yang mendapat perhatian pembaca. Berikut lima berita terpopuler pilihan pembaca :

Kost Angker di Gejayan, Arwah Mahasiswi Cantik Gentayangan

SEBUAH rumah bertingkat berdiri di kawasan Gejayan Sleman. Hunian ini dahulu dikenal sebagai tempat kost putri yang di dalamnya ditempati para mahasiswi luar daerah yang sedang menuntut ilmu di Yogya. Namun peristiwa tragis terjadi di tempat tersebut setelah seorang mahasiswi ditemukan tewas gantung diri di salah satu kamar. Setelah kejadian itu rumah kost ini menjadi angker dan berbagai penampakan mulai sering muncul.

Sekitar tahun 1990 an tempat ini ramai dihuni para mahasiswi. Maklum saja, lokasinya yang strategis dan dekat dengan beberapa kampus ternama di Yogyakarta membuat para mahasiswi 'pendatang' memilih hunian ini untuk tempat singgah sementara selama menuntut ilmu di Kota Pelajar.

Aktivitas para mahasiswi disela kegiatan perkuliahan sangat terasa di rumah kost ini. Tawa dan canda juga sesekali terdengar di kamar-kamar rumah ini seolah menyatu dengan gemericik aliran air Selokan Mataram yang melintas tepat di depan rumah kost.

Suami Bunuh Istri Usai Melahirkan

Sugeng (38) warga Desa Lambangan Gang 9 Kecamatan Undaan Kudus harus meringkuk di tahanan Mapolres setempat. Dia diduga menjadi pelaku pembunuhan terhadap istrinya Dewi Mutosiyah (22) yang baru diketahui setelah beberapa hari korban dimakamkan. Rencananya, Minggu (17/02/2019) pagi besok makam korban di Desa Kedungdowo Kaliwungu dibongkar untuk memastikan kematian korban tidak wajar.

Awalnya, meninggalnya korban pada Sabtu (09/02/2019) pekan lalu, sebagai akibat operasi cesar setelah korban melahirkan anak pertamanya. Warga tidak berpikir jauh, meski beberapa tetangga sempat mendengar terjadi pertengkaran sebelum korban meninggal.

Kepala Desa Lambangan Kecamatan Undaan, Masijan mengatakan, sebagian besar warga berpikir positif terkait kematian korban yang baru saja melahirkan. Apalagi korban langsung dibawa ke rumah orang tuanya di Desa Kedungdowo Kecamatan Kaliwungu Kudus untuk dimakamkan. “Kami baru tahu sekarang kalau kematian korban diduga tidak wajar,” ujarnya, Sabtu (16/02/2019) malam.

Sebelum korban meninggal Sabtu pagi, salah seorang tetangga mendengar orang berteriak minta tolong. Saksi pertama memberitahu ke tetangga lain, kemudian mendatangi rumah dan melihat korban sudah meninggal di ruang tengah.

Warga Klaten Mulai Resah, Berharap Jalan Tol Tak Menggusur Pemukiman

Sebagian warga Klaten mulai khawatir tempat tinggalnya akan tergusur proyek pembangunan jalan tol Solo-Yogya. Mereka mempertanyakan dan meminta agar pemerintah segera sosialisasi peta lokasi mana saja yang akan terkena proyek tersebut.

“Saling pada bertanya, khawatir nanti jangan-jangan rumahnya kena, terus bagaimana. Misal desa terbelah jalan tol, orangtua dan saudara terpisah. Kalau mau ketemu harus muter jauh. Jalan tol memang bagus, tapi jangan menggusur pemukiman, misal dibuat tol jalan layang,” kata Sofyan salah seorang warga Prambanan kepada KRJOGJA.com, Minggu (10/2/2019).

Hal senada juga dikatakan beberapa warga lain. Mereka berharap jalan tol dibuat jalur jalan layang, sehingga tidak perlu menggusur pemukiman warga. Dengan demikian tidak berdampak pada kondisi sosial budaya masyarakat.

Free Fall di Prancis, Nyawa Danrem 074/Warastratama 'Diujung Tanduk'

Komandan Korem (Danrem) 074 /Warastratama Kolonel Rafael Granada Baay memiliki pengalaman berkesan tentang keunggulan pasukan elite Indonesia dibanding pasukan sejenis di luar negeri khususnya pasukan khusus Perancis yang disebut GIGN (Groupe d’Intervention de la Gendarmerie Nationale). Ternyata saat  bertugas di Detasemen Intelijen (Denintel) Komando Pasukan Khusus (Kopassus ) Rafael yang saat itu berpangkat Letnan Kolonel (Letkol) nyaris gugur dalam tugas.

"Ada satu pengalaman yang membuat  nyawa saya diujung tanduk. Bukan di medan perang, melainkan saat terjun bebas atau free fall," terang Rafael saat   silaturahmi dengan wartawan di Markas Korem 074/ Warastratama, Jumat (15/2/2019).

Waktu itu, lanjut  Rafael, Satuan Kopassus mendatangi undangan dari negara Prancis. Rafael yang kala itu berpangkat Letnan Kolonel atau melati dua sempat terkejut karena  dijemput oleh petinggi GIGN, seorang jendral bintang dua. Menurutnya, belum pernah ada delegasi tamu  berpangkat Letkol (waktu itu) dijemput seorang Jendral bintang dua di negara Perancis itu.

"Maksimal setingkat Kolonel untuk menjemput Letkol. Nah, waktu itu saya dijemput seorang bintang dua langsung. Banyak, perwira di Perancis  yang heran kepada saya waktu itu. Kenapa, seorang Letkol dijemput perwira bintang dua," kata Rafael. 

Ratusan Santri dan Kiai Geruduk Rumah Dinas Bupati

Dianggap sebagai biang kemaksiatan, sekitar 500 santri dari pondok pesantren (PP) dan sejumlah kiai di Kabupaten Purworejo menggrudug rumah dinas (Rumdis) bupati di Jalan Dr Setiyabudi Purworejo. Mereka menuntut agar tempat karaoke yang kini mulai merebak di Purworejo ditutup.

“Tempat itu merupakan biang kemaksiatan. Kami tidak ingin masyarakat Purworejo mentalnya rusak. Jika pemerintah tidak bisa menutup kami akan bergerak,” kata Pengasuh PP Daruttauhid Kedungsari KH Thorfur Mawardi, Kamis (14/02/2019).

Para santri dan kiai ini mendatangi rumdis bupati dengan menggunakan kendaraan truk dan kendaran lainnya. Mereka bersama para kiai secara tegas meminta kepada Pemkab Purworejo menutup tempat karaoke.

“Di tempat karaoke itu ternyata juga menyediakan minuman keras (Miras). Padahal di Purworejo sudah ada Perda Miras dengan kadar nol persen,” jelas KH Thorfur Mawardi. (*)