DIY Editor : Ivan Aditya Sabtu, 16 Februari 2019 / 19:39 WIB

Bantu Siswa Tak Mampu dengan Secangkir Kopi

SLEMAN, KRJOGJA.com - Lereng Gunung Merapi tepatnya di Kaliurang Sleman memang menawarkan berbagai rekreasi yang menarik mulai dari lava tour, camping ground hingga taman wisata hewan yang memberikan pengalaman partisipatif. Namun begitu, diantara banyak lokasi yang menawarkan keindahan ada satu tempat yang seolah wajib dikunjungi ketika bertandang ke sisi selatan Merapi ini.

Adalah sebuah lokasi yang bernama Melcosh, terletak di Jalan Kaliurang kilometer 23 tepatnya 100 meter sebelum pintu masuk retribusi wisata Kaliurang. Melcosh merupakan kependekan dari Merapi Lounge and Coffee Shop ini sekilas memang biasa saja, resto dengan tawaran wifi untuk pengunjung dan sebuah rumah kopi dengan berbagai proses yang ada di dalamnya.

Namun, ketika kita menyelam lebih dalam maka tak keliru bila kemudian ada wisata hati yang ditawarkan tempat ini. Betapa tidak, setiap pengunjung yang datang apakah hanya sekedar menyeruput kopi atau makan dan minum di restonya ternyata turut menyumbang bagi pendidikan anak tidak mampu di 13 sekolah mulai jenjang TK hingga SMK.

Direktur Melcosh yang ternyata seorang romo muda, Deny Sulistyawan PR mengungkapkan mengusung konsep menarik ini sejak 2013 lalu kala ia melihat adanya potensi tak tergarap dari sebuah lahan di Kaliurang. Di sisi lain, saat itu ia melihat banyaknya sekolah-sekolah yang tak cukup mampu memberikan gaji layak pada para guru dan survive secara mandiri. Padahal faktor kesejahteraan tersebut menjadi salah satu hal penting karena guru memiliki tugas mulia membentuk generasi penerus bangsa.

“Awalnya punya modal Rp 20 juta lalu buat warung dengan gelas dan piring hanya enam sekitar tahun 2013. Lama-lama ramai, banyak orang tambah sedikit demi sedikit, dapat pinjaman modal lalu membangun yang lebih besar. Niatnya keuntungan untuk pendidikan di direktorat pendidikan Sanjaya, Yayasan Bernardus,” ungkap pria yang akrab disapa Romo Deny ketika berbincang dengan KRJOGJA.com, Sabtu (16/02/2019).

Tak disangka memang, usaha yang diniatkan untuk pendidikan tersebut mengalami kemajuan pesat hingga usia kelima tahun. Dari warung kini unit usahanya berkembang menjadi kopi roastery, camping ground, peternakan, pertanian hingga perbengkelan alat-alat meubel yang telah diekspor ke luar negeri dengan omser mencapai Rp 1,3 miliar pertahun.

“Melcosh ini kemudian bukan hanya jadi sarana perjumpaan dan relasi yang terus bertambah, namun kemudian menjadi sebuah makna pengorbanan yang sebenarnya. Kami tidak menggaji karyawan dengan tinggi namun semuanya berproses karena niatnya adalah untuk pendidikan. Value ini yang mungkin membuat kami terus bersemangat untuk berkembang,” imbuhnya.

Dari semangat itulah di tahun kelima berdiri, secara keseluruhan ada 13 sekolah yang berada di bawah naungan Direktorat Pendidikan Sanjaya. TK,SD, SMP, SMA dan SMK yang dinaungi telah tersebar di berbagai wilayah DIY termasuk satu di Muntilan Jawa Tengah.

“Jumlah muridnya sudah lebih dari 1.000 dan kami memberikan subsidi untuk biaya pendidikan. Semua dana ya dari unit usaha di Melcosh ini. Dari para pembeli, yang nyeruput kopi ya membantu anak-anak untuk terus sekolah,” imbuhnya tersenyum.

Direktur Roastery Melcosh, Trisnawan menambahkan unit usaha tersebut juga merupakan wahana edukasi karyawan yang hampir semuanya merupakan siswa dari sekolah di bawah Sanjaya. “Kalau ditotal sudah ada 10 karyawan yang keluar membuka bisnis kopi sendiri, ada juga yang bikin bengkel sendiri. Ya tidak masalah karena kami juga ingin jadi sekolah lapangan untuk mereka meniti sukses,” terangnya.

Saat ini unit usaha roastery kopi yang dikembangkan bahkan mulai mengekspor biji kopi ke Britania Raya dengan keuntungan dollar. Perkembangan usaha ini akan berbanding lurus dengan kemampuan membantu siswa tak mampu yang berada di sekolah-sekolah Sanjaya.

“Harapan kami unit usaha Melcosh ini bisa terus berkembang sehingga banyak lagi anak-anak yang bisa bersekolah dan memperjuangkan masa depan dengan lebih baik,” pungkas Trisnawan. (Fxh)