DIY Editor : Ivan Aditya Sabtu, 16 Februari 2019 / 18:43 WIB

Kemenpar Populerkan Borobudur

SLEMAN, KRJOGJA.com - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tengah berupaya mempopulerkan dan meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Borobudur yang ditargetkan mencapai 2 juta turis pada 2019 ini. Upaya yang dilakukan di antaranya memanfaatkan 'story telling' tentang legenda, nilai-nilai strategis Borobudur dan pemanfaatannya bagi kesejahteraan dan kemanusiaan. Selanjutnya diperkuat aksesnya dengan kehadiran bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang akan beroperasional terbatas pada 7 April 2019.

Menteri Pariwisata (Menpar) DR Ir Arif Yahya Msc mengatakan pengelolaan Borobudur sebagai UNESCO World Heritage Site memiliki kemiripan karakter dengan Angkor Wat Kamboja sehingga perlu melakukan benchmarking dalam pengelolaan Borobudur. Kelemahan Borobudur adalah tidak ada legenda padahal sangat disukai para akademisi.

Untuk itu, dibutuhkan suatu narasi yang bagus tentang Borobudur yang lebih imajinatif, populer atau ringan dan bisa diterima generasi milenial. "Candi Borobudur dan Angkor Wat meski sama-sama sebagai UNESCO World Heritage Site, dalam pengelolaannya kita tertinggal baik popularitas dan jumlah pengunjung. Kita hanya 250 ribu jumlah wismannya, sedangkan Angkor Wat 2,5 juta atau 10 kali lipat,"  kata Arief Yahya usai menjadi keynote speech pada seminar ‘Legenda Borobudur’ yang berlangsung di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Jumat (15/02/2019).

Arief Yahya menekankan perlu dicari permasalahannya seperti seputar regulasi dan kebijakan pengelolaan Legenda Borobudur serta sejumlah masalah lainnya  untuk mempopulerkan Borobudur ke mancanegara. Dalam mempopulerkan Borobudur kepada turis, Kemenpar tidak akan mengubah branding Borobudur yang sudah sangat kuat.

"Saya berani menjanjikan 2 juta turis sehingga butuh legenda yang atraksinya untuk semakin memperkuat branding Borobudur. Untuk bisa mendatangkan 2 juta wisman, nomer satu adalah bandara. Bandara siap wisman siap sehingga kehadiran bandara NYIA yang akan di operasionalkan terbatas untuk penerbangan internasional pada 7 April 2019 sangat penting," tandasnya.

Menpar mengungkapkan Bandara Internasional Adisutjipto sudah over kapasitas penumpang, maka kehadiran NYIA sangatlah diperlukan. Dengan beroperasionalnya bandara NYIA bisa diprediksi mendongkrak jumlah penumpang hingga 300 persen nantinya.

Hal tersebut berkaca pada dibukanya Bandara Silangit yang naik 300 persen dan Bandara Blimbingsari yang naik 100 persen. " Bagi saya DIY adalah Bali, tetapi kenapa jumlah kunjungannya wismannya sangat kecil hanya 1,25 persen. Minimnya jumlah turis inilah yang sangat disayangkan, jadi saya minta agar DIY dibuatkan bandara baru," imbuhnya.

Wakil Gubernur DIY Paku Alam X yang membacakan sambutan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan dalam pengembangan kawasan Borobudur seluas 600 Hektare sebagai salah satu dari 10 Bali Baru perlu mempertimbangkan tiga hal. Ketiga pertimbangan tersebut yaitu mengarahkan Borobudur sebagai eco-museum, mengubah paradigma masyarakat untuk pariwisata menjadi sebaliknya sebagai basis membangun ekowisata pedesaan dan menjaga keseimbangan jumlah kunjungan wisata dikawasan Jogja - Solo - Semarang (Joglosemar).

"Seperti yang disampaikan Pak Menpar, jumlah wisatawan milenial sangatlah besar hingga 50 persen. Dari data itu, maka pembangunan pariwisata harusnya lebih didekatkan kepada ciri-ciri milenial sehingga pelaku pariwisata harus adaptif terhadap kebutuhan milenial dan memanfaatkan media-media digital. Begitua bandara NYIA beroperasional  terbatas pada April 2019, kita harus sudah siap dengan atraksi di destinasi yang paling dekat yaitu di Kulonprogo. Kalau kita tidak siap maka turis akan lewat," ungkap Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Rahardjo.

Seminar sehari yang dihadiri sekitar 300 peserta dari kalangan akademisi, industri pariwisata, komunitas, pemerintah, dan media tersebut menghadirkan sejumlah narasumber seperti Deputy of Tourism Department and Archeologist of APSARA National Authority  Cambodia dan CHEA Sarith VAY Pisith, Tenaga Ahli Menteri Bidang Budaya VAY Pisith, Dr Djoko Dwiyanto.M.Hum dari Dept. Arkeologi FIB UGM Prof Dr.Heddy Shri Ahimsa Putra MA dari Sekolah Pascasarjana Kajian Pariwisata UGM. (Ira)