Peristiwa Editor : Danar Widiyanto Jumat, 15 Februari 2019 / 20:30 WIB

PENYERAHAN SUMBANGAN PEMBACA 'KR' DI LAMPUNG

Rumah Tersapu Tsunami, Mbah Asanah Selamat

MBAH Asanah (67 tahun)  merasa bersyukur karena masih selamat. Padahal saat terjadi tsunami pada Sabtu malam 22 Desember tahun lalu ia berada di dalam rumah. Sedang rumahnya hancur berantakan dan bergeser tempat.

"Saat itu tubuh saya diputar-putar oleh air tsunami di sela-sela reruntuhan rumah. Alhamdulillah tidak ada bagian rumah yang menimpa tubuh saya," kata Mbah Asanah dengan penuh semangat saat Tim Dompet KR menyerahkan bantuan almari untuk 352 KK korban tsunami di Lampung. 

Mbah Asanah tinggal sebatang kara. Suaminya sudah lama meninggal. Begitu pula anak tunggalnya. Sedang keponakannya tinggal di rumah lain. "Jadi saya di rumah sendirian. Malam itu tiba-tiba air bah menerjang rumah saya dan saya tidak bisa apa-apa," akunya. 

Ketika ditanya apa yang ia ucapkan saat tertimpa musibah itu Mbah Asanah mengaku tak henti-hentinya berdzikir dan melafalkan kalimah thoyibah.  "Saya tak henti-hentinya mengucapkan 'Subhanallah...  La ilaha illa Allah' berulang-ulang. Alhamdulillah saya selamat, " paparnya. 

Selama ini, sehari-hari Mbah Asanah berjualan kue gemblang secara keliling. Pagi pukul 06.00 biasanya ia berangkat jalan kaki. Kemudian pukul 08.00 pulang dengan membawa keuntungan sekitar Rp 50.00. Setelah itu ia Salat Dhuha dan mempersiapkan dagangan esok harinya. "Kue saya buat sendiri. Saya tidak mau begini, " kata Mbah Asanah sambil menunjukkan tangannya seperti orang meminta. Maksudnya Mbah Asanah tidak pernah mengharapkan uluran tangan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Bustami dan istrinya juga merasa diselamatkan Allah. Saat itu pasangan suami istri ini sedang menonton televisi. Keduanya juga dalam kondisi sakit sehingga ketika air bah masuk tak bisa menyelamatkan diri.  

"Air tiba-tiba menerjang dan memporak -porandakan seisi rumah.  Saya diombang-ambingkan air.  Mulut sampai telinga saya kemasukan air.. Saya tidak bisa apa-apa, "  kata Ny Bustami sambil menambahkan seluruh perkakas rusak atau hilang. "Sekarang sendok pun saya tidak punya, " tambahnya. 

Kini Mbah Asanah dan Bustami tinggal di rumah hunian sementara (huntara)  yang dibuat PWNU Lampung bersama 350 KK korban tsunami ilainnya.  Namun isi rumah tidak ada. Karena itu kepada mereka Tim Dompet KR membantu almari sebanyak 352 unit. (Fie)