Jateng Editor : Agus Sigit Jumat, 15 Februari 2019 / 16:47 WIB

Simpan Upal, Pengusaha Jasa Konstruksi Ditangkap Polisi

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com - Seorang pengusaha jasa kontruksi AS (35) warga Dusun Gentan Desa Donorojo, Kecamatan Mertoyudan Magelang dan rekannya, SU (61) warga Dusun Krajan Desa Koncer Kidul, Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso Jawa Timur ditangkap Kepolisian Resort Temanggung karena kedapatan menyimpan uang palsu.

Kasat Reskrim Polres Temanggung AKP Dwi Hariyadi mengatakan dari dua tersangka petugas menyita sejumlah barang bukti yang diantaranya 500 lembar kertas yang diduga rupiah palsu pecahan 100.000 senilai Rp 50 juta, 12 lembar kertas yang diduga rupiah palsu pecahan 100.000 yang belum di potong, satu laptop, tas punggung dan satu mobil.

"Penangkapan di rumah warga di Dusun Padureso, Desa Tegalroso Parakan, diduga saat itu sedang transaksi," kata Dwi Hariyadi, Kamis (14/2).

Dikatakan, upal didapat dari seseorang bernama Budi warga Jatim, yang tanpa sengaja bertemu di daerah Jember ketika berduanya menagih hutang, uang proyek rekanan, sekitar Desember 2018.  

Pada pertemuan itu, kata dia, Budi yang kini dalam pengejaran Polri, berjanji membantu kesulitan ekonomi karena proyek yang dikerjakan tidak jalan. Budi lantas memberi tas punggung yang didalamnya terdapat lembaran uang, yang ternyata setelah dipersiksa palsu. 

"Tersangka mendapat bagi hasil 10 persen dari hasil peredaran upal," katanya, sembari mengatakan cetakan upal ini sangat kasar dan dicetak diatas kertas Kwarto. 

Dikemukakan tersangka SU, pada Minggu lalu mendatangi seorang warga di Parakan untuk membantu kondisi kesulitan keuangan yang juga dialaminya, dan hendak menggadaikan tanah. SU menawarkan kerjasama menjual upal. 

"Tetapi rencana itu berhasil diendus petugas yang kemudian menangkapnya," katanya.

Dia mengatakan masih mengembangkan kasus upal tersebut dan pada dua tersangka dijerat dengan pasal 36 ayat (2) juncto pasal 26 ayat (2) UU RI Nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang dengan ancaman hukuman selama-lamanya 10 tahun penjara dan denda paling tinggi Rp 10 miliar.

Tersangka AS mengatakan sejak diterima upal yang diterimanya belum dierdarkan karena memang bingung bagaimana caranya. " Saya mau kembalikan upal pada Budi tetapi nomor ponselnya hilang, hingga kemudian SU nekad membawa ke Parakan dan kemudian tertangkap," katanya.   

Dia mengatakan tidak ada pikiran untuk berbisnis upal, barang tersebut juga hanya titipan dan kini tidak akan lagi bersentuhan dengan upal. (Osy)