Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 15 Februari 2019 / 15:21 WIB

Free Fall di Prancis, Nyawa Danrem 074/Warastratama 'Diujung Tanduk'

SOLO, KRJOGJA.com -  Komandan Korem (Danrem) 074 /Warastratama Kolonel Rafael Granada Baay memiliki pengalaman berkesan tentang keunggulan pasukan elite Indonesia dibanding pasukan sejenis di luar negeri khususnya pasukan khusus Perancis yang disebut GIGN (Groupe d’Intervention de la Gendarmerie Nationale). Ternyata saat  bertugas di Detasemen Intelijen (Denintel) Komando Pasukan Khusus (Kopassus ) Rafael yang saat itu berpangkat Letnan Kolonel (Letkol) nyaris gugur dalam tugas.

"Ada satu pengalaman yang membuat  nyawa saya diujung tanduk. Bukan di medan perang, melainkan saat terjun bebas atau free fall," terang Rafael saat   silaturahmi dengan wartawan di Markas Korem 074/ Warastratama, Jumat (15/2/2019).

Waktu itu, lanjut  Rafael, Satuan Kopassus mendatangi undangan dari negara Prancis. Rafael yang kala itu berpangkat Letnan Kolonel atau melati dua sempat terkejut karena  dijemput oleh petinggi GIGN, seorang jendral bintang dua. Menurutnya, belum pernah ada delegasi tamu  berpangkat Letkol (waktu itu) dijemput seorang Jendral bintang dua di negara Perancis itu.

"Maksimal setingkat Kolonel untuk menjemput Letkol. Nah, waktu itu saya dijemput seorang bintang dua langsung. Banyak, perwira di Perancis  yang heran kepada saya waktu itu. Kenapa, seorang Letkol dijemput perwira bintang dua," kata Rafael. 

"Ternyata perwira tinggi GIGN telah mendengar berbagai prestasi tingkat dunia di Kopassus ehingga untuk menghormati delegasi Kopassus , langsung perwira bintang dua GIGN yang menjemput langsung tamunya," ujarnya.

Setelah sempat berbincang-bincang, kata Danrem jendral bintang dua itu menawari untuk terjun free fall bersamanya. Tanpa menunggu waktu, Rafael langsung mengiyakan ajakan tersebut.  "Dia nawarin terjun dengan ketinggian 12.000 feet. Langsung saya iyakan," kata mantan Komandan Grup (Dangrup) 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Surakarta itu.

Danrem mengakui saat itu tidak memperhitungkan jika kondisi saat musim dingin. Padahal, terjun dengan ketinggian 12.000 feet pada musim dingin bisa bersuhu -2 sampai -9 derajat celcius. "Terjun dengan suhu serendah itu sangat membahayakan. Mampu membekukan darah sehingga membahayakan penerjun. Saya tidak memperhitungkan sampai sejauh itu saat itu, saat itu bondo nekad saja," kata Rafael sambil tertawa.

Nasib baik  masih berpihak kepadanya. Saat terjun di ketinggian itu, baru terasa efek ketika keluar dari pesawat terbang. Tubuh terasa kaku dan pernafasan juga sesak. Namun, karena sudah sering berlatih di ketinggian yang lebih tinggi dari itu Rafael berhasil mengatasi masalah tersebut.

"Makanya, tentara luar negeri itu sangat menghargai tentara Indonesia. Ya, antara ketidaktahuan, nekat dan nasib baik. Kalau disuruh jujur ya takut juga. Tapi, saya pernah berlatih di kawasan salju Gunung Jaya Wijaya, Papua. Padahal juga belum pernah terjun payung disana," ujar  Rafael lagi. (Hwa/Lim)