Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 15 Februari 2019 / 15:06 WIB

Muslimah Ssi MM Apt: BPJS Perlu Kajian Tarif Perawatan

SEMARANG,KRJOGJA.com - Stroke merupakan penyakit penyebab kematian ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. Data WHO 2015 menempatlan stroke di urutan pertama  penyebab kecacatan. Data WHO menunjukkan pula ada 20 juta jiwa penderita stroke tahun 2015 dan diperkirakan meningkat menjadi 23,6 juta di tahun 2030.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang (FK Unimus) yang juga mahasiswa S3 Ilmu Farmasi UGM Muslimah Ssi Apt MM kepada pers Jumat (15/2) menyebutkan data Kemenkes RI adanya peningkatan penderita stroke dari 8,3  orang per 1.000 tahun 2007 menjadi 12,1 orang per 1.000 pada tahun 2013. Angka penderita stroke di Yogyakarta juga cukup tinggi. 


Menurut Muslimah tahun 2013 sebanyak 5.000 pasien per tahun dan proporsi penderita stroke iskemik lebih besar mencapai 70% kasus dibandingkan stroke perdarahan yang hanya 30%.Perawatan medis pasien stroke (terutama yang mengalami kecacatan) membutuhkan biaya cukup tinggi.

Belum lama ini Muslimah melakukan penelitian selama setahun di 10 rumah sakit negeri dan swasta se DIY dengan 618 pasien lewat pendekatan observasional analitik dengan rancangan cross sectional berdasarkan perspektif rumah sakit.  Hasilnya, total biaya riil rawat inap pasien stroke iskemik Rp 6.074.028 per episode rawat inap (Tarif BPJS Kesehatan Rp 7.996.295 untuk stroke sedang tarif kelas 2) sehingga banyak data RS tipe B kelebihan anggaran untuk rawat inap sebesar Rp 299.364.052 dibandingkan biaya riil). Sedangkan total biaya riil rawat jalan pasien stroke iskemik Rp 301.834 per episode rawat jalan (Tarif BPJS Rp 165.400  untuk biaya penyakit koding Q-5-44-0) sehingga banyak data RS tipe B kekurangan anggaran untuk rawat jalan sebesar  Rp 25.288.522 dibandingkan biaya riil RS tahun 2017.

Muslimah berharap BPJS melakukan kajian riset lagi untuk minimal 9 lagi penyakit berisiko kematian di Indonesia  (jantung, diabetes, hipertensi, TBC dan lain-lain). Sehingga bisa diketahui persis kesesuaian tarif INA-CBG’s dari BPJS terhadap biaya riil perawatan di rumah sakit. (sgi)