Hiburan Editor : Danar Widiyanto Kamis, 14 Februari 2019 / 09:30 WIB

'What The Friends Are For', Kisahkan Persahabatan Diponegoro dan Sentot

SENTOT PRAWIRODIRJO boleh jadi masih muda ketika dirinya ikut Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro di tahun 1825. Usianya masih 18 tahun kala itu, tapi loyalitasnya pada sang pemimpin tak pernah padam. Ia juga mampu membawa korps kavaleri menjadi satuan kejam yang ditakuti para penjajah dari Belanda. 

Kesetiannya pada Pangeran Diponegoro memang tak perlu dipuji. Bahkan ketika Diponegoro tertembak oleh tentara Belanda di daerah Surakarta, Sentot mau memapahnya naik ke atas kuda dengan baju bersimbah darah.

Sepotong kisah loyalitas Sentot itu kemudian dituangkan dalam lukisan cat di atas kanvas berukuran 200 x 150 cm oleh pelukis Yogyakarta, Nana Tedja. Kini, lukisan itu masih dipajang di Jogja Gallery sebagai bagian dari Pameran Gambar Babad Diponegoro.

"Saya dapat adegan ketika Pangeran Diponegoro tertembak dan dipapah naik kuda oleh Sentot. Saya bikin seperti narasi saja, tidak banyak metafora seperti pelukis lain," buka Nana ketika berbincang dengan KRJOGJA.com, kemarin. Melihat tema tersebut, ia pun memberi judul 'What The Friends Are For', ungkapan hubungan Diponegoro dan Sentot. 

Uniknya, dalam lukisan bergaya modern ekspresionisme itu, Nana juga menggambarkan pohon anggur yang ia rasa menjadi sumber kehidupan. "Ini sebetulnya di luar konteks sih, tapi saya kira pohon anggur ini bisa menggambarkan perjuangan Pangeran Diponegoro yang tetap hidup hingga saat ini meski dirinya sudah tiada. Saya mengambil referensi dari kitab suci, kalau dulu Tuhan pernah memberikan mukjizat dengan anggur ini di Kota Kana, Galilea," jelas Nana.

Ditanya mengenai proses pembuatan lukisan Pangeran Diponegoro, alumnus Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu mengatakan, tak sulit menafsirkan makna Babad Diponegoro pupuh nomor XXXII itu. "Saya justru merasa takjub dengan Pangeran Diponegoro yang tak mau duduk enak di dalam tembok Kraton. Padahal, hidupnya sudah enak tapi memilih berperang melawan Belanda demi kesejahteraan masyarakat," tutupnya.(M-1)