DIY Editor : Agus Sigit Rabu, 13 Februari 2019 / 11:21 WIB

Supervisi di Markas Brimob, 'Jenderal Bintang Dua' Ditangkap

BANTUL, KRJogja.com - Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Bantul membongkar aksi polisi gadungan berinisial Ja (53) asal Kali Angke Cengkareng Jakarta Barat lantaran. Untuk memuluskan aksinya, tersangka bahkan mengaku berpangkat jenderal bintang dua atau Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol). Tidak hanya itu, tersangka juga kedapatan membawa  sejata api ilegal, Kartu Tanda Anggota (KTA) polri palsu. Hingga kini kasus tersebut masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.

Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Rudy Prabowo SIK didampingi Kasubbag Humas AKP Sulistiyaningsih Selasa (12/2), mengatakan, bahwa tersangka disergap petugas di Jalan Jenderal Sudirman Bantul akhir pekan lalu atau Sabtu (9/2). Dalam penangkapan yang dipimpin Kanit IV Reskrim Sat Reskrim Polres Bantul, Iptu Mahardian Dewo Negoro SIK MA itu tersangka sebelumnya pada Jumat pekan lalu masuk ke lingkungan Markas Brimob Gondowulung Yogyakarta. Dalam kunjungan ke Mako Brimob jendral 'abal abal' berdalih melakukan supervisi. Namun petugas curiga dan langsung melakukan koordinasi dengan Polres Bantul. Selang sehari Sabtu akhir pekan lalu tersangka dibekuk petugas.

Kepada penyidik, tersangka mengaku mendapatkan senjata api ilegal dari seseorang seharga Rp 60 juta. Kini Jt masih  menjalani pemeriksaan secara intensif di Satreskrim Polres Bantul. Hingga kini polisi masih mendalami keterlibatan Jt dalam bertindak pidana yang mengaku sebagai anggota polisi.

Rudy mengatakan, dari tangan Jt barang bukti yang sudah disita diantaranya, senjata api jenis Glock 19 Gen 4, dua belas butir peluru dan dua buah magazinenya, satu buah kartu surat izin memegang senpi jenis Glock 19 kaliber 9MM atas nama Gt, kartu surat izin memegang senpi jenis HS kaliber 9MM atas nama tersangka, satu buah e-KTA Polri atas nama tersangka, satu buah KTA Polri lama atas nama tersangka satu buah lencana warna hitam bertuliskan Badan Intelijen Negara Republik Indonesia, satu buah holster warna hitam dan satu buah handphone.

Rudy mengatakan, tersangka dijerat dengan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang tindak pidana memiliki, menguasai, dan menggunakan senjata api tanpa izin dari yang berwenang.

“Ancamannya dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun,” pungkasnya. (Roy)